Implementasi kecerdasan buatan (AI) terbukti andal dalam meningkatkan kapasitas audit internal. Penggunaan automasi bisa tekan 30% durasi kerja manual.
Selain itu, jangkauan ekstraksi yang memungkinkan analitik merekam seluruh populasi data terbukti mampu mendeteksi kecurangan lebih awal hingga mendongkrak rating kepuasan pelanggan. Dengan koridor regulasi yang telah disiapkan secara teperinci oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penggunaan AI untuk audit kini siap diakselerasi.
Audit and Assurance Lead CPA Australia Tiffany Tan mengungkapkan, di tengah disrupsi digital, auditor internal dituntut memiliki standar lebih dalam kompetensinya. Tak sekadar mencentang blangko dan melakukan monitoring, auditor internal diharapkan dapat mengontrol data, memeriksa kepatuhan pada metrik ESG, hingga menguji algoritma AI dalam penarikan simpulan serta pengambilan keputusan.
"Disrupsi digital menuntut upgrading auditor menjadi pelindung utama integritas perusahaan di tengah menguatnya risiko siber dan tata kelola digital baru. AI tidak akan menggantikan peran auditor, tetapi auditor yang memahami AI akan menggantikan mereka yang tidak memahaminya," ucapnya saat membuka seminar The 25th Auditors Transformation Venture di Universitas Indonesia, Depok, Rabu (18/2/2026).
Tiffany menjelaskan, dalam disrupsi, auditor membutuhkan pendefinisian ulang peranannya untuk tetap relevan, memahami risiko yang timbul akibat transformasi digital, serta merespons perubahan secara berimbang. Kemampuan auditor merumuskan dan mengomunikasikan masalah secara jernih pun menjadi semakin berharga ketika perkembangan AI justru memicu kebisingan dan menjadi buzzwords.
"Automasi dapat menekan hingga 30% durasi pekerjaan manual, memungkinkan perusahaan tetap kompetitif sambil memperbaiki kualitas. Dengan peningkatan kapasitas digital, auditor juga perlu mengembangkan insights dengan nilai tambah seperti forward-looking analysis, evaluasi keamanan siber, ESG assurance, hingga tata kelola data," jelasnya.
Kemampuan auditor manusia yang tidak dimiliki AI, Tiffany menegaskan, terletak pada penilaian (sense of judgement) serta mengecek ulang penarikan simpulan berdasarkan fakta di lapangan, bukan hasil olahan data. AI dapat membantu efisiensi dan meningkatkan performa, tetapi tidak menggeser tanggung jawab auditor dan pengambilan keputusan.
Selain mencegah systemic error, kepemilikan sense of judgement seorang auditor juga dibutuhkan untuk menyediakan interpretasi alternatif terhadap analitik data yang sama. Skeptisisme profesional, menguji penarikan simpulan, dan melakukan pengecekan ulang laporan akhir adalah kapasitas yang sampai saat ini belum dimiliki agentic AI.
"Tanggung jawab auditor yang menggunakan AI adalah memastikan kecukupan bukti, menjaga transparansi, dan memastikan ada manusia yang mengoperasikan dan dapat mempertanggungjawabkan hasil analisis audit. Kecuali itu, skeptisisme profesional dan integritas akan tetap menjaga profesi auditor tetap dipercaya dan tak tergantikan di masa depan," pungkasnya.
Tugas kecil hingga besar
Dalam tugas sehari-hari, Auditor Partner KAP Liana Ramon Xenia & Rekan Juan Ramon Siahaan mengungkapkan peran besar agentic AI untuk meringkas informasi dari ratusan kontrak dan dokumen dalam hitungan menit untuk mengambil kesimpulan secara cepat. Asisten virtual dan chatbit pun memungkinkan komunikasi auditor dan manajemen menjadi lebih efektif.
"GenAI dapat menghasilkan draft awal berdasarkan input data dengan bahasa yang natural, lengkap dengan eksplorasi data kuantitatif sehingga auditor dapat membaca data yang sebelumnya hanya dipahami data scientist, sehingga proses audit menjadi substansial dan semakin diperkaya," jelas Juan.
Baca juga:
Selain menyusun draft, AI juga membantu auditor untuk mengidentifikasi metrik kunci dalam laporan keuangan, memvisualisasikan data secara akurat, mengembangkan daftar pertanyaan untuk inquiry, hingga memverifikasi kelengkapan laporan akhir sebelum diserahkan kepada manajemen. Alhasil, hasil audit tidak hanya semakin lengkap, tetapi juga saling terkoneksi.
Tidak hanya tugas-tugas kecil, Chief Audit Executive Bank CIMB Niaga Antonius Gunadi menjelaskan, kemampuan data scraping AI yang dapat mengambil data seluruh populasi teruji dalam proses audit, bukan hanya sampel. Akibatnya, tidak hanya keputusan dapat diambil lebih presisi, tetapi kantor audit juga mampu mendeteksi berbagai kasus sejak sangat dini dan menjalankan fungsi early warning system bagi korporasi.
Selama lima tahun terakhir, Gunadi mengungkapkan, CIMB Niaga pernah menghadapi tiga kasus besar yang ditemukan lewat audit full-blown population seluruh cabang dan nasabah dengan bantuan AI.
"Pada 2021-2022, direksi cabang pernah memanfaatkan celah pemberian insentif dalam memenuhi target penjualan. Dia melakukan direct sales dengan 'membayar' nasabah, lalu mereka biarkan saldo minimum mengendap, untuk bisa menerima insentif. Penjualan tumbuh, tetapi uang di rekening tidak ada. Ketika kami uji dengan data populasi penuh, 98,7% direksi se-Indonesia menggunakan skema ini," ungkap Gunadi.
Dalam temuan lain, pada 2022, kantor audit menemukan anomali saat satu nasabah mengumpulkan poin kredit 51 kali dalam sebulan. Temuan ekstraksi data AI memperlihatkan modus nasabah yang melakukan pembelian dengan transaksi besar di marketplace untuk mendapatkan poin kredit. Namun, saat poin kredit sudah masuk, transaksi dibatalkan sehingga dana tidak masuk ke bank tetapi poin kredit telanjur diberikan.
"Sebelum bank sadar, dia langsung redeem sehingga poin itu masuk ke rekeningnya. Tanpa bantuan AI, saya butuh garis tangan yang luar biasa dan menghabiskan hoki seumur hidup untuk bisa menemukan anomali yang sangat membahayakan semacam ini," ungkap Gunadi

Tidak hanya mendeteksi kecurangan dan anomali dalam transaksi, Gunadi mengungkapkan kantor audit CIMB Niaga pun menggunakan analitik data AI untuk menganalisis rating dan menangkap keluhan nasabah di media sosial. Sejak 2023, praktik ini digunakan untuk mengindikasikan audit pelayanan masing-masing cabang.
"Cabang dengan rating 1-3 dapat belajar dari cabang dengan rating 4-5 untuk memperbaiki layanan menjadi lebih sederhana dan cepat. Tidak hanya dengan cabang lain, kami juga bandingkan dengan rating bank lain. Rekomendasi audit hasil analitik itu memungkinkan rating CIMB Niaga hingga 40% dari 3,2 menjadi 4,5 dalam waktu 12 bulan," ujarnya.
Koridor tersedia
Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Wattimena menjelaskan, inkorporasi AI dalam proses audit menjadi kebutuhan mutlak, terutama ketika risiko siber meningkat berkali-kali lipat dan menjadi fenomena gunung es. Ia mengakui, di balik transformasi digital, ada tren risiko yang turut berubah dan menjadi semakin kompleks.
"Badan Siber dan Sandi Negara mencatat terdapat 5.164.872.615 kasus percobaan serangan digital sepanjang 2025, naik signifikan dari tahun 2024 yang hanya 330 juta percobaan. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-111 dari 112 negara dalam Global Fraud Index, hanya satu tingkat di atas Pakistan," ungkap Sophia.
Baca juga:

Pelibatan AI dalam proses audit memungkinkan risiko siber ditekan. Kesadaran itu, menurut Sophia, mendorong OJK menerbitkan Pedoman Keamanan Siber untuk penyelenggara perdagangan aset keuangan digital dan inovasi teknologi sektor keuangan, serta mengeluarkan peraturan yang mengharuskan lembaga jasa keuangan memiliki kerangka cybersecurity.
Di samping itu, OJK juga mendorong perusahaan jasa keuangan untuk menerapkan multi-factor authentification, melakukan backup data secara reguler, serta menerapkan skema Continuous Audit Continuous Monitoring (CACM) yang memungkinkan deteksi dini terhadap anomali data untuk memastikan efektivitas kontrol internal dan asesmen risiko.
"OJK telah menggunakan AI untuk analisis kepatuhan, instrumen analisis sentimen, serta analisis finansial dalam proses lisensi. Praktik ini serupa dengan Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat. Dengan memperkuat inkorporasi AI dalam audit, risiko siber bukan hanya dapat ditekan, tetapi juga mendorong teknologi lebih bertanggung jawab dan responsif bagi kebutuhan perusahaan," tegas Sophia.