Kenaikan harga bahan pokok selalu terjadi pasca Lebaran, salah satunya pada komoditas cabai rawit yang di sejumlah daerah menembus hingga Rp 80.000-Rp 120.000 per kilogram.
Lonjakan ini terjadi setelah periode konsumsi tinggi selama Ramadan dan Idul Fitri, ketika permintaan masyarakat meningkat signifikan untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner. Seusai Lebaran, pasokan di pasar belum sepenuhnya pulih, sementara permintaan masih relatif tinggi, sehingga mendorong harga tetap berada di level belum normal.
Pengamat Pertanian Khudori mengatakan tingginya harga cabai rawit dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Dari sisi produksi, kondisi cuaca yang tidak menentu seperti curah hujan tinggi dapat mengganggu panen dan menurunkan kualitas hasil pertanian.
“Siklus tanam yang belum kembali normal setelah masa panen sebelumnya membuat pasokan terbatas. Di sisi distribusi, hambatan logistik pasca libur panjang Lebaran juga berkontribusi, karena aktivitas pengiriman sempat melambat sehingga pasokan ke pasar tradisional tidak merata,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (26/3/2026).
Faktor lain yang turut memicu kenaikan harga adalah peran rantai distribusi yang panjang serta adanya potensi spekulasi di tingkat pedagang. Ketika pasokan terbatas, sebagian pelaku pasar cenderung menahan stok untuk mendapatkan harga lebih tinggi. Di samping itu, biaya produksi seperti pupuk dan transportasi yang meningkat juga ikut membebani harga jual di tingkat konsumen. Kombinasi faktor-faktor ini membuat harga cabai rawit sulit turun dalam waktu singkat setelah Lebaran.
Untuk menekan harga ke depan, diperlukan langkah strategis dari hulu hingga hilir. Pemerintah dapat memperkuat stabilitas pasokan melalui operasi pasar dan distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit. Selain itu, dukungan kepada petani seperti penyediaan bibit unggul, subsidi pupuk, serta penguatan teknologi pertanian penting untuk menjaga produktivitas.
Harga Komoditas Pangan Masih Tinggi
Empat hari pasca Lebaran, harga sejumlah komoditas pangan utama masih bertahan di level tinggi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah cabai rawit yang meskipun tidak lagi menembus Rp 120.000 per kilogram seperti saat puncak permintaan, namun masih berada di kisaran Rp 87.000 per kilogram di sejumlah pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda, seiring proses normalisasi pasokan yang berjalan bertahap setelah periode libur panjang.
Baca juga:

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia yang dikutip pada (26/3), harga komoditas cabai masih mencapai Rp 87.450. Rinciannya, cabai rawit merah tercatat sebesar Rp 87.450 per kg, cabai rawit hijau Rp60.150 per kg, Sementara itu, harga cabai merah besar tercatat Rp 52.600 per kg, Cabai merah keriting Rp 52.950 per kg.
Selain cabai rawit, sejumlah komoditas lain juga tercatat masih tinggi. Berdasarkan data PIHPS, harga bawang merah berada di kisaran Rp68.400 per kilogram dan bawang putih sekitar Rp57.900 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas medium dijual di kisaran Rp18.900–Rp19.200 per kilogram, sedangkan beras kualitas bawah berada di level Rp17.550–Rp17.750 per kilogram.
Untuk komoditas protein hewani, harga daging ayam ras tercatat sekitar Rp43.000 per kilogram, sementara daging sapi kualitas I mencapai Rp168.650 per kilogram dan kualitas II sekitar Rp161.150 per kilogram. Di sisi lain, harga telur ayam ras berada di kisaran Rp40.800 per kilogram, menunjukkan bahwa komoditas pangan strategis lainnya juga masih berada pada level relatif tinggi di pasar.
Adapun komoditas lainnya seperti gula pasir premium tercatat sekitar Rp26.500 per kilogram dan gula lokal Rp21.800 per kilogram. Sementara minyak goreng curah berada di kisaran Rp 21.600 per liter, dengan minyak goreng kemasan berkisar Rp 25.650 hingga Rp27.950 per liter. Tingginya harga berbagai komoditas ini dipengaruhi oleh faktor pasokan, distribusi, serta tingginya permintaan masyarakat, sehingga diperlukan upaya stabilisasi agar harga dapat kembali terkendali dalam waktu dekat.
Pemerintah Pastikan Harga Bapok Terkendali Pasca Lebaran
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan memastikan harga bahan pokok tetap terkendali, bahkan cenderung turun setelah Lebaran. Hal ini menyusul adanya kekhawatiran dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) yang mewanti-wanti potensi kenaikan harga pada periode tersebut.
Seperti diketahui, Ikappi memproyeksikan sejumlah harga bahan pokok akan terus melonjak hingga sepekan pasca momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan harga pangan setelah Lebaran di tengah kekhawatiran pedagang mengenai potensi lonjakan harga.
Menurutnya, jika mengacu pada tren tahun lalu, harga bahan pokok justru cenderung mengalami penurunan setelah Hari Raya.
“Kalau kita mengacu terhadap apa yang terjadi tahun lalu, biasanya trennya justru turun. Jadi mudah-mudahan ya ini kita coba pantau terus selama satu bulan ke depan juga,” kata Roro saat ditemui di Pasar Mayestik, Jakarta (17/3/2026).

Untuk itu, Kemendag akan terus melakukan pemantauan selama satu bulan ke depan serta turun langsung ke lapangan untuk melihat perkembangan harga dan menentukan langkah yang perlu diambil apabila terjadi gejolak di pasar.
Roro menyatakan Kemendag bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan pemerintah daerah (Pemda) akan terus memantau harga bahan pokok di pasar menjelang Lebaran. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari kerja sama lintas instansi untuk memastikan pasokan pangan tetap aman sekaligus mengevaluasi perkembangan harga di lapangan.