Visualisasi, analisis, dan interpretasi data terkini yang relevan dengan isu-isu ekonomi, kebijakan, dan bisnis
Ekonomi Indonesia triwulan kedua tahun 2025 tumbuh sebesar 5,12% secara tahunan. Pertumbuhan ini digerakkan oleh tiga komponen utama, yaitu ekspor, konsumsi LNPRT, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Sejak satu dekade lalu, berdasarkan skor Human Development Index, Indonesia masuk ke kelompok negara dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Tapi, di ASEAN menempati peringkat ke-6.
Pemerintah menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu agenda prioritas yang dalam RAPBN 2026 mendapat alokasi sebesar Rp402,4 triliun. Salah satu targetnya adalah untuk meningkatkan volume produksi migas nasional.
Pemerintah menambah alokasi anggaran ketahanan pangan dalam RAPBN 2026 sebanyak 5,9 persen menjadi Rp164,41 triliun. Hal ini menunjukkan komitmen serius pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan, terutama beras dan jagung.
Berkurangnya alokasi dana transfer ke daerah (TKD) yang signifikan pada RAPBN 2026 menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mewujudkan kemandirian fiskal.
Didorong oleh menguatnya permintaan global, kenaikan harga miyak sawit mentah menjadi angin segar bagi para pengusaha di tengah tantangan meningkatkan produktivitas.
Produksi gas bumi nasional selama ini ikut berkontribusi untuk menjaga industri tetap berjalan, meski pemanfaatan gas bumi untuk menambah devisa negara juga bertambah.
Indeks Menabung Konsumen (IMK) di periode bulan Juli ini turun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini disebabkan momen pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan memasuki tahun ajaran baru.
Sejumlah provinsi di luar Pulau Jawa seperti Papua Tengah, Lampung, dan Kalimantan Selatan menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten meningkat.
Hingga pertengahan tahun ini, hasil Survei Penjualan Eceran 2025 yang dilansir Bank Indonesia (BI) mengindikasikan kinerja penjualan eceran tetap terjaga.
Dengan potensi yang dimiliki, Kepulauan Riau dan Maluku Utara merupakan contoh daerah yang secara signifikan dapat meningkatkan neraca perdagangan luar negerinya dan berkontribusi hingga 7% terhadap PDRB daerahnya.
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) dan kebijakan tarif baru Trump akan mengubah peta ekspor Indonesia menjadi lebih terdiversifikasi. Ekspor ke Uni Eropa berpeluang meningkat, sementara pasar ekspor ke AS belum tentu terkontraksi.
Menampilkan 12 dari 157 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.