Perlambatan ekonomi dunia dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari tensi dagang antara AS-China hingga tren fragmentasi rantai pasok yang menekan efisiensi perdagangan internasional. Meskipun terdapat upaya pemulihan pascapandemi, beban fiskal yang tinggi dan kebijakan moneter yang ketat di banyak negara maju membuat momentum pertumbuhan global kehilangan tenaga, memaksa para pelaku pasar untuk bersikap lebih waspada.
Di tengah tren perlambatan tersebut, peran negara berkembang tetap signifikan menopang pertumbuhan ekonomi dunia. Dengan kontribusi terhadap PDB global mencapai 51,2%, kelompok negara ini diproyeksikan tumbuh di angka 3,9% hingga 4,2% pada tahun 2026.
Meski momentum ekspansi sedikit tertahan oleh perlambatan perdagangan global, dinamika di pasar negara berkembang memberikan bantalan yang mencegah ekonomi dunia jatuh ke jurang resesi. Hal ini menunjukkan bahwa poros pertumbuhan ekonomi telah bergeser secara struktural ke wilayah-wilayah yang lebih dinamis di luar negara-negara maju.
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki stabilitas ekonomi di tengah guncangan eksternal. Sementara banyak negara besar seperti India, China, bahkan Amerika Serikat diproyeksi menurun pertumbuhannya di tahun 2026, perekonomian Indonesia diproyeksi tetap terjaga di angka 5,0%.
Dana Moneter Internasional (IMF), bahkan dengan optimistis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu meningkat hingga 6,4% pada tahun 2026. Ketahanan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling stabil dan konsisten, mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang cukup kuat dalam meredam dampak negatif global.
Namun, prospek pertumbuhan ini tetap dibayangi oleh ancaman nyata yang terlihat dalam Lanskap Risiko Global yang diterbitkan oleh Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF). Untuk tahun 2026, survei terhadap para ahli dan ekonom menunjukkan pergeseran fokus risiko yang sangat tajam.
Konfrontasi geoekonomi diprediksi menjadi risiko utama dengan persentase 18%, disusul oleh Konflik Bersenjata Antar-Negara sebesar 14%. Dominasi risiko geopolitik ini menciptakan efek berganda yang sewaktu-waktu dapat mengganggu jalur logistik energi dan pangan, serta memicu volatilitas pasar keuangan global yang ekstrem.
Tahun 2026 akan menjadi ujian bagi ketangguhan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis skala global yang dipicu oleh faktor non-ekonomi. Hubungan erat antara prediksi perlambatan ekonomi dan tingginya risiko konflik geopolitik menuntut kebijakan yang adaptif dan kolaborasi internasional yang lebih kuat.
Bagi Indonesia, mempertahankan stabilitas di tengah badai risiko global bukan hanya soal angka pertumbuhan, yang lebih penting adalah merumuskan strategi dalam memitigasi dampak dari polarisasi politik dunia. Juga menjaga daya saing domestik agar tetap berkontribusi bagi perekonomian global yang kian tak pasti.