Peringkat daya saing Indonesia tahun 2025 menurut laporan World Competitivenes Ranking (WCR) menempati posisi 40 dari 69 negara. Peringkat ini turun 13 peringkat dari tahun sebelumnya (2024) yang berada di peringkat 27. Tahun 2024 menjadi tahun terbaik bagi Indonesia dalam lima tahun terakhir karena mencapai posisi daya saing yang cukup tinggi.
Meski merosot 13 peringkat, Indonesia pernah menempati posisi yang lebih rendah yaitu di peringkat 44 pada tahun 2022. Namun saat itu, penurunan peringkat terjadi tidak sedalam sekarang, karena hanya turun 7 peringkat dari tahun sebelumnya.
Dibandingkan dengan lima negara utama di kawasan ASEAN, Indonesia berada di posisi keempat. Hanya lebih baik dari Filipina yang beada di peringkat 51. Sementara Singapura di peringkat 2, Malaysia di peringkat 23, dan Thailand di peringkat 30.
Jika dilihat ke dalam 4 komponen yang membentuk skor daya saing versi WCR, Indonesia mengalami penurunan pada 3 komponen, yaitu komponen pemerintahan yang efisien (Government Efficiency), bisnis yang efisien (Business Efficiency), dan komponen infrastruktur. Hanya di satu komponen, yakni kinerja ekonomi (Economic Performance), peringkat Indoensia tetap sama dibandingkan dengan tahun lalu, yakni peringkat 24.
Komponen pemerintahan yang efisien yang mendapat skor 53,5 berada di peringkat 34, turun dari tahun sebelumnya yang di peringkat 23 (turun 11 peringkat). Komponen bisnis yang efisien mendapat skor lebih tinggi, yakni 59, namun secara peringkat berada di peringkat 26 atau turun 12 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya di perinkat 14. Sedangkan komponen infrastruktur mendapat skor 30,2 di peringkat 57. Posisi ini turun 5 peringkat dari tahun sebelumnya di peringkat 52.
Penurunan peringkat di 3 komponen ini menjadi catatan penting untuk melakukan perbaikan ke depan. Ketiga komponen ini menjadi penentu kepercayaan investor untuk mengembangkan usaha/bisnis di Indonesia. Pemerintahan yang efisien terkait dengan kepastian regulasi bagi investor. Bisnis yang tidak efisien terkait dengan ekonomi biaya tinggi yang masih dirasakan investor dalam menjalankan usahanya. Sedangkan infrastruktur menentukan kelancaran logistik dan distribusi barang.
Selain itu, laporan WCR juga menyebutkan bahwa, berdasarkan jawaban para eksekutif yang disurvei, Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang perlu menaruh perhatian besar pada kurangnya peluang ekonomi yang dialami/dirasakan masyarakatnya. Kondisi ini diutarakan oleh 66,1% responden.
Penyediaan lapangan kerja memang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 menunjukkan masih terdapat 7,35 juta orang yang menganggur dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,74%. Artinya, terdapat sekitar lima orang penganggur dari 100 orang angkatan kerja.