Momentum Lebaran menjadi salah satu pendorong utama pergerakan konsumsi masyarakat yang berdampak langsung pada peningkatan penjualan di berbagai sektor, termasuk otomotif dan industri garmen. Tradisi mudik yang identik dengan mobilitas tinggi mendorong permintaan kendaraan, baik mobil baru maupun bekas, seiring kebutuhan masyarakat akan transportasi yang lebih nyaman dan fleksibel.
Tak hanya otomotif, industri garmen juga merasakan lonjakan permintaan yang signifikan menjelang Lebaran. Kebutuhan masyarakat akan pakaian baru untuk merayakan hari raya menjadi faktor utama yang mendongkrak produksi dan distribusi produk fesyen, mulai dari busana muslim hingga pakaian kasual.
Momentum Lebaran Dorong Penjualan
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto mengatakan momentum Lebaran secara historis menjadi pendorong utama peningkatan penjualan industri garmen, baik untuk pasar ekspor maupun domestik. Permintaan dari luar negeri, khususnya negara-negara dengan populasi muslim besar, biasanya melonjak seiring kebutuhan busana untuk Ramadhan dan Idul fitri.
Di dalam negeri, tren serupa juga terjadi karena masyarakat cenderung meningkatkan konsumsi pakaian baru menjelang hari raya, sehingga memberikan efek positif terhadap kinerja industri secara keseluruhan.
“Kami belum dapat merilis data resmi terkait capaian penjualan tersebut. Hal ini disebabkan proses penghitungan yang masih berlangsung, terutama untuk pasar domestik yang hingga kini masih berada dalam periode libur Lebaran,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (25/3/2026).
Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dari pemberi kerja kepada pekerja juga turut merangsang belanja masyarakat. Uang itu jadi pendorong roda konsumsi masyarakat.
Dengan aktivitas perdagangan yang belum sepenuhnya kembali normal karena masih suasana liburan maka, pelaku industri masih menunggu data yang lebih akurat untuk mengukur sejauh mana dampak momentum Lebaran terhadap penjualan garmen tahun ini.
Dorong penjualan mobil
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menuturkan tradisi mudik yang melibatkan perjalanan jarak jauh membuat banyak masyarakat mempertimbangkan untuk memiliki kendaraan pribadi yang lebih nyaman dan fleksibel. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pelaku industri otomotif dengan menghadirkan berbagai program promo, mulai dari diskon harga, bunga kredit ringan, hingga paket pembiayaan menarik guna menarik minat konsumen menjelang hari raya.
“Selain kebutuhan mobilitas, peningkatan pendapatan musiman seperti tunjangan hari raya (THR) juga turut memperkuat daya beli masyarakat,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (25/3/2026).

Kombinasi antara kebutuhan perjalanan dan ketersediaan dana tambahan tersebut membuat permintaan mobil cenderung meningkat signifikan pada periode menjelang Lebaran. Tak heran jika momentum ini selalu menjadi salah satu periode puncak penjualan bagi industri otomotif setiap tahunnya.
Momentum Lebaran Dorong Daya Beli Konsumen
Pengamat Ekonomi Indef Eko Listiyanto menuturkan momentum Lebaran secara konsisten menjadi pendorong utama peningkatan daya beli konsumen di Indonesia. Periode ini identik dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, sandang, hingga transportasi, yang mendorong lonjakan konsumsi di berbagai sektor.
“Tradisi seperti mudik, berbagi hadiah, dan memperbarui kebutuhan rumah tangga turut memperkuat pola belanja masyarakat menjelang hari raya,” ungkap dia.
Selain itu, pencairan THR memberikan tambahan likuiditas yang signifikan bagi konsumen, sehingga mendorong peningkatan transaksi baik di ritel modern maupun tradisional. Kombinasi antara kebutuhan musiman dan ketersediaan dana membuat aktivitas ekonomi bergerak lebih dinamis selama periode Lebaran, sekaligus menjadi momentum penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan penjualan.
Baca juga:

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan program Belanja Nasional seperti Belanja di Indonesia Aja (BINA) pada momentum menjelang Hari Raya Idul Fitri merupakan upaya peningkatan daya beli masyarakat dan minat terhadap produk lokal.
“Ini sebenarnya sebuah instrumen untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan juga meningkatkan konsumsi domestik,” kata Mendag Budi di sela peluncuran program BINA Lebaran 2026 di Jakarta, Jumat (9/3/2026).
Ia menilai, program belanja seperti BINA Lebaran yang tahun ini digelar pada 6-30 Maret 2026 juga merupakan bentuk sinergi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait termasuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam mendorong konsumsi dan perputaran roda ekonomi dalam negeri.
“Ini adalah kolaborasi yang cukup bagus antara ritel modern, ada department store, mal, dan juga UMKM untuk saling menyediakan produk yang tujuannya adalah mendukung atau menyambut Lebaran,” ujar Mendag.