Mesin Kapital di Balik Angka PDB Indonesia

Laporan Perekonomian Indonesia oleh Bank Indonesia (BI) mencatat perekonomian Indonesia pada tahun 2024 cukup resilien di angka 5,03% (yoy). Sebuah capaian yang diproyeksikan juga terjadi di tahun 2025 dan akan dijaga pada rentang 4,9% hingga 5,7% pada tahun 2026. 

Mesin Kapital di Balik Angka PDB Indonesia

Secara umum, tren pertumbuhan ekonomi nasional masih resilien di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan domestik yang solid. Namun, jika ditelisik lebih dalam, pertumbuhan ini tidak hanya sekadar soal konsumsi masyarakat, melainkan semakin bergantung pada penguatan investasi fisik dan proyek-proyek strategis yang menjadi tulang punggung pembangunan.

Dilihat dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi lebih unggul dengan pertumbuhan yang sangat progresif, melampaui laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam kuartal II-2025 dan III-2025. Investasi ini sebagian besar mengalir ke aset-aset tetap seperti mesin, infrastruktur, dan pembangunan industri hilir. 

Sementara itu, Konsumsi Rumah Tangga yang biasanya menjadi motor penggerak utama cenderung tumbuh melandai di kisaran 4,9%. Fenomena ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan PDB saat ini sangat dipacu oleh akumulasi kapital (padat modal) yang berupaya meningkatkan kapasitas produksi nasional jangka panjang.

Sinergi pertumbuhan dari sisi pengeluaran ini tercermin pula pada sisi lapangan usaha, di mana sektor Industri Pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 4,84% (yoy) di tahun 2024 dan meningkat di kuartal III-2025 sebesar 5,5% (yoy).

Namun, pergerakan angka yang mencolok terlihat pada sektor jasa, seperti Informasi & Komunikasi yang tumbuh double digit di angka 10,45% (yoy) di 2024, di kuartal III-2025 menjadi 9,7% (yoy). Selain itu, sektor Transportasi & Pergudangan sebesar 8,6% (yoy) di kuartal ke III-2025. Angka-angka ini menunjukkan bahwa digitalisasi dan mobilitas fisik turut berperan penting dalam pertumbuhan PDB saat ini.

Sektor-sektor jasa seperti Informasi & Komunikasi serta Transportasi yang tumbuh sangat cepat menunjukkan digitalisasi ekonomi mulai memberikan warna baru pada struktur PDB Indonesia, meski secara volume belum mampu menyaingi sektor manufaktur berat.

Selain itu, pertumbuhan yang didorong oleh PMTB dan Industri Pengolahan berbasis teknologi tinggi cenderung bersifat padat modal. Data menunjukkan bahwa sektor-sektor dengan pertumbuhan tertinggi bukanlah sektor yang menyerap tenaga kerja secara masif. 

Sebaliknya, sektor Pertanian dan Industri Tekstil/Alas Kaki (padat karya) yang secara tradisional menyerap jutaan orang, kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB justru terus menyusut dan tertinggal. Kondisi ini menciptakan jurang kesenjangan di mana PDB tumbuh secara nominal, namun penciptaan lapangan kerja yang berkualitas bagi rakyat bawah tidak bergerak bersamaan.

Jika struktur pertumbuhan tetap fokus pada penguatan kapital tanpa revitalisasi sektor padat karya, Indonesia berisiko menghadapi krisis ketenagakerjaan di masa depan. Masa depan ekonomi yang hanya mengandalkan mesin dan efisiensi modal akan meninggalkan tenaga kerja berketerampilan rendah yang jumlahnya cukup besar.