Menolak Percepatan Tanpa Makna

Downshifting mengancam regenerasi organisasi. Perlu disikapi dengan bijak. Banyak pilihan jalan keluar 

Menolak Percepatan Tanpa Makna
Photo by Elin Melaas / Unsplash

Promosi jabatan, sebuah momen yang biasanya sangat ditunggu seorang karyawan. Sering dianggap sebagai puncak aspirasi karier. Naik posisi, berarti naik gaji, naik gengsi, dan naik pengaruh. Namun belakangan, muncul fenomena yang berbalik arah, banyak karyawan justru menolak promosi, tidak mau memimpin organisasi.

Mereka memilih tetap di posisi sekarang, bahkan ada yang secara sadar menurunkan intensitas kariernya. Lalu mencoba minggir dan memilih melihat hiruk pikuk kehidupan dunia dari kejauhan. Fenomena ini, yang dikenal sebagai downshifting hampir mirip-mirip dengan fenomena di sosial media yang menggaungkan wacana hidup santai, alias slow living

Slow living adalah gerakan kultural yang menekankan hidup dengan tempo sadar dan terkontrol. Jika slow living berbicara tentang ritme hidup, maka downshifting adalah manifestasi konkret di ranah karier.

Keduanya lahir dari keresahan yang sama, yaitu penolakan terhadap percepatan tanpa makna; keinginan untuk merebut kembali kendali atas waktu; dan kesadaran bahwa produktivitas bukan satu-satunya ukuran nilai diri. 

Jadi downshifting adalah slow living yang diterapkan dalam struktur organisasi. Lalu apakah ini tanda melemahnya etos kerja, atau justru refleksi kesadaran baru tentang makna hidup? 

Secara praktis, ada beberapa faktor utama yang mendorong karyawan menjadi downshifting, menolak kenaikan jabatan atau yang berbau menambah tugasnya. Seperti beban manajerial yang menguras energi. Banyak profesional menyadari, bahwa naik jabatan berarti mengelola konflik, politik kantor, dan tekanan target tim, bukan lagi sekadar mengerjakan hal yang mereka kuasai.

Ia juga mulai merasa kehilangan otonomi waktu. Promosi sering berbanding lurus dengan ekspektasi ketersediaan setiap saat, dua puluh empat jam dalam tujuh hari. Di sisi lain, generasi muda juga belajar dari pengalaman generasi sebelumnya. Mereka melihat gaji tinggi tidak selalu berarti kualitas hidup lebih baik dan membuat bahagia.

Dan jika dulu kesuksesan berarti ia banyak uang dan dipuja orang, kini definisi kesuksesan semakin dikaitkan dengan fleksibilitas, kesehatan mental, dan ruang privat. Maka downshifting dalam konteks ini bukan kegagalan karier, melainkan strategi sadar untuk menjaga keseimbangan hidup.

Fenomena ini juga memiliki resonansi filosofis yang kuat. Dalam tradisi Stoikisme, tokoh seperti Seneca mengingatkan bahwa kekayaan dan jabatan seringkali memperbesar kecemasan, bukan kebahagiaan. Yang penting bukan status eksternal, tetapi ketenangan batin.

Dari perspektif eksistensialisme, Jean-Paul Sartre menekankan kebebasan individu untuk memilih dan bertanggung jawab atas makna hidupnya sendiri. Menolak promosi bisa dilihat sebagai tindakan autentik, memilih jalan hidup yang selaras dengan nilai pribadi, bukan sekadar mengikuti norma sosial.

Sedangkan mengutip kritik terhadap modernisasi dari Max Weber tentang ‘rasionalisasi’ dan ‘sangkar besi’ birokrasi, di mana struktur organisasi modern dapat menjebak individu dalam sistem yang efisien tetapi tidak selalu manusiawi, downshifting, dalam kacamata ini, adalah bentuk resistensi halus terhadap ‘sangkar besi’ tersebut.

Bagi divisi personalia atau HRD, fenomena ini menghadirkan dilema strategis. Sistem organisasi modern umumnya dirancang dengan asumsi, semua orang ingin naik tangga karier.

Jika banyak karyawan menolak promosi, risiko yang muncul adalah kekosongan kepemimpinan, talent pipeline terganggu, kesulitan regenerasi manajerial. Di sisi lain, memaksa promosi pada individu yang tidak menginginkannya justru berpotensi menciptakan manajer yang tidak engaged.

Maka perlu pendekatan secara organisasi yang out of the box. Misalnya mengarahkannya memilih karier jalur spesialis dengan kompensasi setara manajer. Jadi  tidak semua jalur karier harus vertikal ada kalanya bisa bergeser ke kiri dan ke kanan. 

Atau bisa saja dilakukan redefinisi kepemimpinan, mengurangi beban administratif manajer melalui otomasi dan dukungan sistem. Perusahaan juga bisa menawarkan fleksibilitas waktu kerja, seperti kerja hybrid, cuti fleksibel, dan pengelolaan beban kerja yang realistis. 

Bagaimapun, fenomena downshifting bukan sekadar tren generasional. Ia mencerminkan pergeseran paradigma, dari karier sebagai perlombaan status menjadi karier sebagai instrumen kualitas hidup

Bagi organisasi, ini bukan ancaman, jika dikelola dengan tepat. Justru bisa menjadi momentum untuk membangun sistem kerja yang lebih berkelanjutan. Downshifting bukanlah langkah mundur, ia hanya sebuah cara untuk tetap sadar menghadapi perubahan zaman yang masif.

Daftar untuk buletin SUAR Inspirasi Penggerak Dunia Usaha.

Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.

Silakan periksa kotak masuk Anda dan konfirmasi. Terjadi kesalahan. Silakan coba lagi.

Baca selengkapnya