" } }

Menghadapi Hantu di Kantor

Ketakutan akan hal supranatural perlahan memengaruhi produktivitas, menurunkan semangat kerja, dan menciptakan atmosfer penuh kecemasan.

Menghadapi Hantu di Kantor
Photo by Toa Heftiba / Unsplash
Daftar Isi

Sebagai hal yang lumrah dalam komunitas masyarakat kita, mempercayai hal-hal gaib yang ada di sekitarnya. Sebagai orang beragama, cerita tentang makhluk supranatural atau yang tidak kasat mata memang diajarkan dalam berbagai kepercayaan. 

Bahkan di era teknologi informasi maju sekarang ini, yang mampu mengirim suara atau gambar dari jarak jauh, atau menggerakkan benda dengan remote; banyak yang masih ketakutan dengan adanya kekuatan lain yang lebih rumit, yang tidak bisa dipahami akal, daripada orang menelpon tanpa kabel. 

Maka tak heran, jika cerita tentang adanya penampakan dari makhluk-makhluk yang tidak dipahami keberadaannya, membuat khalayak menelan mentah-mentah informasi itu sebagai kejadian di luar nalar yang harus diterima, tanpa harus mencari jawaban penyebab logis dari kejadian itu. 

Dalam sebuah komunitas yang kecil misalnya, seperti di lingkungan perkantoran, tak jarang juga kita dengar tentang cerita makhluk penunggu di sudut-sudut gedung. Hal ini lalu dikembangkan dengan teori kesejarahan dari tempat tersebut, atau kejadian di masa lalu. Di sisi lain, sebagian orang masih percaya bahwa energi dari lingkungan kerja dapat menarik hal-hal supernatural yang tak terlihat.

Kepercayaan bahwa energi di tempat kerja bisa menarik entitas tak terlihat adalah keyakinan umum dalam berbagai budaya. Sering dikaitkan dengan suasana tempat kerja yang negatif, seperti stres, konflik atau yang secara positif seperti semangat kolaborasi, namun bisa memengaruhi vibrasi atau aura suatu tempat.  

Maka fenomena ini kemudian bisa bermanifestasi menjadi pengalaman pribadi, tentang terdengarnya suara yang tidak ketemu sumbernya, langkah-langkah kaki misterius di malam hari, deritan pintu yang terbuka sendiri, bayangan samar di lorong, atau kertas-kertas beterbangan tanpa ada angin yang melemparkannya. 

Ketakutan akan hal supranatural ini perlahan memengaruhi produktivitas, menurunkan semangat kerja, dan menciptakan atmosfer penuh kecemasan. Dalam tinjauan filosofis, ketakutan supranatural dapat dipandang sebagai bayangan dalam gua Plato, sebuah persepsi yang belum diuji oleh akal. Mengutip ajaran dari filsuf Yunani kuno itu. Orang pun lebih percaya pada ilusi daripada mencari pengetahuan sejati.

Sedangkan filsuf dari Prancis, Rene Descartes, mengajarkan untuk meragukan segala sesuatu, hingga menemukan dasar yang pasti. Ketakutan supranatural di kantor bisa dilihat sebagai hasil dari kurangnya verifikasi rasional. Dengan keraguan metodis, kita diajak menyelidiki apakah fenomena itu benar-benar supranatural atau sekadar gangguan teknis, psikologis, atau lingkungan.

Tengok juga ajaran filsuf Jerman, Martin Heidegger yang menekankan bahwa manusia sering hidup dalam ketakutan (fear) yang berakar pada keterlemparan dalam dunia. Ketakutan supranatural adalah ekspresi dari rasa tidak aman eksistensial. Kantor yang seharusnya menjadi ruang produktif berubah menjadi ruang penuh ancaman imajiner. 

Karenanya, kita perlu kembali ke objek itu sendiri. Artinya, alih-alih larut dalam cerita mistis, kita perlu mengamati fenomena secara jernih: suara, bayangan, atau perasaan takut, lalu mencari penjelasan yang lebih rasional. 

Sebuah fenomena perlu pendekatan akal sehat: apakah suara berasal dari pipa, AC, atau struktur bangunan. Lalu ruang diskusi tentang ketakutan dibuka lebar, agar karyawan bisa mengekspresikan kecemasan dan menemukan makna bersama.

Transformasi lingkungan juga perlu dilakukan untuk menciptakan suasana kantor yang terang, bersih, dan ramah, sehingga mengurangi kesan angker. Setiap orang harus menumbuhkan keberanian menghadapi ketidakpastian. Ketakutan supranatural bisa menjadi momentum untuk menyadari bahwa manusia selalu berhadapan dengan misteri, dan tugas kita adalah merespons dengan keberanian.

Dan terkadang memang perlu ada ritual simbolik positif, namun bukan dalam arti mistis, melainkan kegiatan bersama seperti doa, refleksi, atau aktivitas kebersamaan yang menumbuhkan rasa aman dan solidaritas.

Ketakutan akan hal supranatural di kantor adalah cermin dari keterbatasan manusia dalam menghadapi misteri dan ketidakpastian. Dari sudut pandang filosofis, ia mengingatkan kita bahwa bayangan, ilusi, dan rasa takut sering lahir dari kurangnya refleksi rasional dan keberanian eksistensial. 

Penyembuhannya bukan sekadar mengusir hantu, yang tak logis, melainkan membangun budaya kerja yang sehat, penuh cahaya, solidaritas, dan keberanian menghadapi misteri kehidupan.

Baca selengkapnya