Berdasarkan laporan Konstruksi Dalam Angka 2025, kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 9,48% pada Triwulan III 2025. Di triwulan tersebut tercatat nilai kontribusi Industri Konstruksi sebesar Rp 334 triliun, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Angka tersebut mencerminkan dampak aktivitas konstruksi, mulai dari pembangunan prasarana infrastruktur hingga hunian, terhadap perputaran ekonomi nasional serta keterkaitannya dengan penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah. Sektor ini memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luas terhadap industri terkait, mulai dari manufaktur bahan bangunan hingga sektor jasa keuangan, yang menjadikannya pilar stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dalam rincian kinerjanya, Indeks Nilai Konstruksi yang Diselesaikan menunjukkan dinamika yang menarik antar-subsektor. Tren data pada tahun 2025 mengungkapkan bahwa Indeks Konstruksi Bangunan Sipil secara konsisten melampaui Indeks Konstruksi Gedung dan Konstruksi Khusus. Dari basis tahun 2016, nilai konstruksi bangunan sipil konsisten ekspansif di atas 70% dari kuartal III 2024.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh masifnya proyek infrastruktur strategis nasional seperti jalan tol, pelabuhan, dan bendungan yang memiliki nilai kontrak besar serta durasi pengerjaan dengan tahun jamak. Dominasi bangunan sipil ini juga dipengaruhi oleh percepatan penyerapan belanja modal pemerintah (APBN/APBD) yang biasanya mulai meningkat sejak triwulan kedua. Stabilnya angka indeks di atas 170 di sektor ini menjadikan motor utama pertumbuhan konstruksi saat ini masih bertumpu pada pembangunan fisik infrastruktur publik (sektor sipil).
Sebaliknya, Konstruksi Gedung yang lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta dan investasi properti cenderung tumbuh lebih moderat karena sangat sensitif terhadap fluktuasi suku bunga perbankan dan daya beli masyarakat. Sementara itu, Konstruksi Khusus (instalasi dan penyelesaian) tetap berada di posisi pendukung dengan indeks yang lebih rendah karena sifat pekerjaannya yang tersegmentasi sebagai sub-kontrak dari proyek utama.
Ke depannya, industri ini diprediksi akan terus ekspansif, namun dengan tuntutan efisiensi yang lebih tinggi. Meskipun indeks nilai konstruksi meningkat, perusahaan konstruksi harus menghadapi tantangan kenaikan biaya bahan bangunan dan upah pekerja yang dapat menggerus margin keuntungan yang saat ini berada di kisaran 13-16%.
Transformasi digital seperti penggunaan Building Information Modeling (BIM) dan pergeseran fokus ke arah infrastruktur hijau diprediksi akan menjadi kunci keberlanjutan bagi para pelaku usaha untuk tetap kompetitif di pasar nasional maupun regional ASEAN.
Sejalan dengan optimisme tersebut, Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) dalam artikel publikasinya (18/9/2025) memprediksi prospek cerah bagi industri ini menuju tahun 2030. AKI menyatakan bahwa industri konstruksi Indonesia sedang berada dalam jalur pertumbuhan yang kuat, didorong oleh kebutuhan pembangunan infrastruktur jangka panjang yang berkelanjutan.
Proyeksi ini membuka peluang luas bagi kontraktor nasional untuk tidak hanya bermain di dalam negeri, tetapi juga meningkatkan daya saing agar dapat menangkap peluang dari proyek-proyek besar yang terintegrasi dan berbasis teknologi tinggi di masa depan.