Selamat pagi, Chief…
Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Surplus Neraca Perdagangan yang Menipis dan Tantangan Tarif Resiprokal Serta Perang AS-Iran
- Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, ini tecermin dari kinerja neraca perdagangan Januari 2026 yang surplus USD0,95miliar. Kendati masih surplus, namun besaran surplus mengecil bila dibandingkan Desember 2025 yang sebesar USD2,51 miliar.
- Ke depan, Indonesia akan dihadapkan pada dua tantangan besar, yakni kesepakatan tarif resiprokal Indonesia-Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik pasca serangan AS-Israel ke Iran. Lantas bagaimana perdagangan internasional ke depan?


Genderang Perang Timur Tengah Bayangi Rantai Pasok Energi Indonesia
- Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akhir pekan lalu dikhawatirkan memicu gejolak tak hanya bagi ekonomi global namun bisa merembet hingga ke Indonesia. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya pasokan. Kenaikan harga minyak berisiko mendorong harga bahan bakar minyak (BBM) domestik naik dan memicu tekanan inflasi di dalam negeri. Ekonom menilai harga minyak bisa melejit hingga tembus USD100 per barel, sedangkan saat ini di kisaran USD70 per barel.

Tekanan Inflasi Februari 2026 Capai 4,76%, April Diperkirakan Kembali Normal
- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Februari 2026 menembus 4,76% secara tahunan (year on year/YoY), dengan inflasi month-to-month mencapai 0,68%. Kenaikan ini masih disebabkan basis perhitungan inflasi tahunan lebih rendah atau low base effect akibat diskon tarif listrik pada awal Februari 2025. Namun, pasca-Lebaran, yakni April 2026, inflasi diperkirakan melandai dan terkendali.

Tujuh Hal yang Perlu Diketahui Soal Serangan AS ke Iran
- Menanggapi situasi keamanan di kawasan dan keadaan terkini Iran pasca serangan militer tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, pada Senin 2 Maret 2026 memberikan pernyataan pers kepada awak media Indonesia di kediamannya Jakarta. Dalam keterangannya, Dubes Boroujerdi mengecam keras aksi militer tersebut, menilai serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional Iran dan bagian dari sejarah panjang intervensi Amerika Serikat. Ia juga menyambut positif tawaran Indonesia untuk memediasi konflik demi meredakan ketegangan yang terus meningkat.
- Berikut adalah tujuh hal penting yang perlu diketahui mengenai situasi perang Iran saat ini menurut Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi:

Geopolitik Iran dan Lonjakan Harga Minyak 2026
- Konflik AS dengan Iran yang memanas dikhawatirkan mengganggu stabilitas pasokan di Selat Hormuz, jalur nadi utama bagi distribusi minyak mentah dunia. Sebab, sekitar 20% distribusi minyak dunia melalui kawasan ini. Konflik ini tidak hanya menciptakan ketidakpastian politik, tetapi juga langsung memberikan tekanan pada pasar komoditas energi. Memasuki tahun 2026, tren harga minyak mentah menunjukkan volatilitas yang tinggi. Berdasarkan data terbaru per 2 Maret 2026, pasar mengalami lonjakan yang signifikan di mana harga Brent telah menyentuh angka 77 dollar AS/barel, meningkat sekitar 22,40% dibandingkan posisi awal tahun. Jika menilik perjalanan harga sepanjang 2026, lonjakan di awal Maret ini merupakan puncak dari rentetan fluktuasi mingguan. Pada Januari, harga sempat berada di level yang relatif rendah, yakni di kisaran 59 dollar AS/barel untuk WTI, karena pasar masih optimistis terhadap ekspansi produksi dari Guyana dan Brasil.

Membedah Komponen Pembentuk Inflasi Februari 2026
- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, angka inflasi tahunan (year-on-year) menunjukkan kenaikan yang cukup tajam dari 3,55% di bulan Januari menjadi 4,76% di bulan Februari. Dilihat dari inflasi berdasarkan kelompok komponen, terlihat bahwa komponen Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices) dan Energi menjadi penggerak utama masih berlanjutnya inflasi awal tahun ini. Inflasi energi melonjak dari 14,94% di Januari menjadi 22,18% di Februari, yang kemudian diikuti inflasi komponen Harga Diatur Pemerintah sebesar 12,66%. Sementara itu, komponen bahan makanan yang bergejolak (volatile food) juga ikut merangkak naik ke level 4,01% di Februari, memberikan tekanan tambahan pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun, sejatinya tingkat inflasi tahunan Februari 2026 ini tampak tinggi lantaran ada basis perhitungan yang rendah (low base effect) karena pada Februari tahun lalu pemerintah memberikan subsidi diskon tarif listrik. Ini yang menyebabkan inflasi tahunan Februari 2026 tampak tinggi. Terlepas dari itu, tingkat inflasi yang tinggi tetap perlu jadi perhatian.


Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menyampaikan hasil RDKB Februari 2026 pada Selasa 3 Maret 2026 secara hibrida daring melalui Youtube OJK dan luring. Adapun acara luring dilaksanakan di Ruang Serbaguna Menara Radius Prawiro Lantai 25 Gedung A Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Acara ini menjadi penting karena OJK akan menyampaikan perkembangan kinerja dan isu terkini dari tiap sektor industri keuangan antara lain perbankan, asuransi, dana pensiun, fintech, pasar modal, isu perlindungan konsumen, dan lain-lain.
Sosialisasi Kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR), Bonus Hari Raya (BHR), dan Realisasi Stimulus Ramadan 2026. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berencana akan menggelar acara ini pada Selasa 3 Maret 2026 pukul 09.30 WIB - selesai di Selasar Loka Kretagama, Gedung Ali Wardhana Lantai 3, Jakarta Pusat. Hadir memberikan keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

"Kita tidak akan pernah memperoleh kedamaian di dunia luar sampai kita berdamai dengan diri kita sendiri." (Dalai Lama XIV)
Selamat beraktivitas, Chief.
Tim SUAR