Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan
Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan. Bila anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri anda dengan kirim email ke [email protected]
Kontradiksi yang mengganggu
Menyambung tulisan panjang sebelumnya, ada satu puzzle kecil dalam ekonomi pangan Indonesia yang tampak sepele, tetapi sebenarnya sangat penting.
Di satu sisi, berbagai studi dan perhitungan sederhana menunjukkan bahwa gandum lebih murah per kalori dibandingkan beras—baik dilihat dari harga global maupun harga bahan baku domestik.
Namun di sisi lain, jika kita melihat konsumsi nyata rumah tangga, gambarnya berubah.
Rumah tangga miskin tetap mengandalkan beras sebagai sumber utama energi. Sementara itu, makanan berbasis gandum—seperti mie instan dan roti—justru lebih banyak dikonsumsi oleh kelompok menengah dan atas.
Jika gandum lebih murah, bukankah seharusnya rumah tangga miskin beralih ke gandum?
Di sinilah kontradiksi itu muncul: Mengapa bahan baku yang lebih murah justru menghasilkan makanan yang lebih mahal per kalori?
Menguji kontradiksi dengan angka sederhana
Mari kita mulai dari hal yang paling konkret: harga per kalori yang benar-benar dihadapi rumah tangga.
Ambil tiga contoh sederhana: beras medium, mie instan dan roti tawar.
Dengan angka yang realistis di Indonesia saat ini:
Beras medium:
sekitar Rp13.500/kg, dengan ±3.650 kcal
→ sekitar 0,27 kcal per rupiah
Mie instan (±75 gram):
harga Rp3.000, ±350 kcal
→ sekitar 0,12 kcal per rupiah
Roti tawar (400 gram):
harga Rp15.000, ±2.600 kcal
→ sekitar 0,17 kcal per rupiah
Hasilnya sangat jelas:
Beras memberikan kalori hampir dua kali lebih banyak per rupiah dibanding mie instan, dan jauh lebih tinggi dibanding roti.
Jadi untuk rumah tangga yang ingin memaksimalkan energi dengan anggaran terbatas, pilihan yang rasional tetap beras.
Dengan kata lain:
Beras adalah “cheapest calorie” dalam konsumsi nyata, bukan gandum-based food.
Di mana letak kesalahpahaman?
Kesalahpahaman muncul karena kita sering mencampur dua level analisis:
- level komoditas (wheat vs rice)
- level konsumsi (mie, roti vs nasi)
Pada level komoditas: gandum memang lebih murah per kalori
Tetapi rumah tangga tidak makan gandum mentah. Mereka makan mie instan dan roti—yang sudah melalui proses industri panjang.
Di sinilah kunci puzzle tersebut.
Ketika makanan bukan lagi sekadar bahan baku
Harga pangan modern tidak ditentukan oleh bahan baku semata.
Untuk memahami mie instan, misalnya, kita perlu melihat struktur biayanya: tepung hanya sekitar 25–35% dari harga. Sisanya adalah:minyak goreng, bumbu, kemasan, energi, distribusi dan branding.
Artinya, sebagian besar harga mie instan tidak berasal dari gandum, tetapi dari proses yang mengubahnya menjadi produk siap konsumsi.
Hal yang sama berlaku untuk roti.
Begitu gandum masuk ke dalam industri makanan, ia berhenti menjadi “komoditas murah” dan berubah menjadi produk bernilai tambah.
Dari kalori murah ke “convenience good”
Di sinilah kita perlu mengubah cara berpikir. Mie instan dan roti bukanlah “cheap calorie goods”. Mereka adalah: cheap convenience goods
Artinya: cepat disiapkan, mudah dikonsumsi, fleksibel dan cocok dengan gaya hidup urban.
Jadi ketika seseorang membeli mie instan, yang dibeli bukan hanya kalori, tetapi waktu, kemudahan dan variasi.
Dua dunia konsumsi: survival vs lifestyle
Puzzle ini menjadi jelas jika kita melihat perbedaan perilaku antar kelompok pendapatan.
Bagi Rumah tangga miskin tujuan utama nya memenuhi kebutuhan energi dengan kendala utama: anggaran. Strategi mereka adalah memaksimalkan kalori per rupiah. Jadi, beras menjadi pilihan dominan
Sementara bagi Rumah tangga menengah dan atas. tujuan utama: memaksimalkan utilitas dengan kendala utama: waktu dan preferensi. Bagi mereka strateginya ada;ah mencari kenyamanan dan variasi. Alhasil, konsumsi mie, roti, dan produk olahan meningkat
Dengan kata lain: Beras adalah survival good, sementara mie dan roti adalah lifestyle goods.
Engel, Bennett, dan Quite transformation.
Fenomena ini sebenarnya konsisten dengan teori klasik. Engel’s Law mengatakan bahwa seiring naiknya pendapatan:proporsi pengeluaran untuk pangan menurun.
Bennett’s Law mengatakan konsumsi karbohidrat menurun dan konsumsi protein meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita.
Namun ada satu detail yang sering luput, bahkan dalam kelompok karbohidrat, terjadi transformasi. Dari beras sebagai bulk staple mejadi gandum sebagai differentiated food.
Jadi, tidak ada kontradiksi
Sekarang kita bisa menjawab puzzle awal. Tidak ada kontradiksi antara dua fakta ini: gandum lebih murah per kalori, mie dan roti lebih mahal per kalori. Karena yang dibandingkan bukan barang yang sama. Gandum sebagai bahan baku ≠ mie instan sebagai produk akhir
Implikasi yang lebih dalam: struktur sistem pangan
Puzzle ini membawa kita ke insight yang lebih penting.Jika kita hanya melihat harga bahan baku, kita akan menyimpulkan bahwa gandum lebih efisien daripada beras. Tetapi jika kita melihat konsumsi sehari-hari beras tetap paling efisien untuk kelompok miskin.
Dan jika kita melihat sistem secara keseluruhan gandum memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki beras.
Di sinilah peran gandum menjadi krusial. Bukan karena gandum paling murah bagi semua orang. Tetapi karena ia memungkinkan diversifikasi, menyediakan alternatif ketika harga beras naik dan mendukung transformasi konsumsi.
Dengan kata lain gandum bukan pengganti beras, tetapi pelengkap sistem
Risiko jika kita salah membaca puzzle ini
Jika kita salah memahami fenomena ini, kita bisa jatuh pada kebijakan yang keliru. Misalnya: menganggap mie instan sebagai “pangan murah” atau menganggap gandum sebagai substitusi langsung beras.
Padahal mie instan tidak murah per kalori dan gandum tidak sepenuhnya substitusi bagi kelompok miskin.
Pelajaran kebijakan
Dari puzzle ini, ada tiga pelajaran penting. Pertama, Kebijakan pangan tidak boleh hanya berbasis harga bahan baku. Kedua, Perbedaan antar kelompok pendapatan harus menjadi pertimbangan utama. Ketiga, Diversifikasi pangan harus dilihat sebagai proses sistemik, bukan sekadar substitusi komoditas.
Penutup: memahami apa yang sebenarnya kita beli
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan: “Mana yang lebih murah, beras atau gandum?” Tetapi “Apa sebenarnya yang dibeli oleh rumah tangga ketika mereka membeli makanan?”
Untuk sebagian orang, jawabannya adalah kalori. Untuk sebagian lainnya, jawabannya adalah kenyamanan. Dan untuk sistem pangan secara keseluruhan, jawabannya adalah kombinasi keduanya.
Itulah sebabnya, dalam ekonomi pangan modern, yang menentukan bukan hanya harga bahan baku, tetapi bagaimana bahan tersebut diubah menjadi makanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
“Kalori murah menjelaskan bagaimana masyarakat bertahan hidup. Tetapi untuk memahami bagaimana masyarakat berubah, kita harus melihat lebih dari sekadar harga—kita harus melihat bagaimana makanan menjadi bagian dari pilihan hidup.”
Skamat Hari Raya Idul Fitri dan menikmati lontong dari beras dan kue dari tepung terigu.
Pejaten, 21 Maret 2026