Imlek, Fengsui, dan Cerita Pengusaha Ambil Keputusan

Pergantian shio dari Tahun Ular ke Tahun Kuda Api tak hanya menjadi momentum budaya, tetapi juga waktu refleksi bagi banyak pelaku usaha dalam menyusun langkah setahun ke depan.

Imlek, Fengsui, dan Cerita Pengusaha Ambil Keputusan
Pejalan kaki melintasi dekorasi Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili bertema Tahun Kuda Api di depan sebuah pusat perbelanjaan, Malang, Jawa Timur, Senin (16/2/2026). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Daftar Isi

Perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh di tanggal 17 Februari 2026 disambut meriah di berbagai kota. Pergantian shio dari Tahun Ular ke Tahun Kuda Api tak hanya menjadi momentum budaya, tetapi juga waktu refleksi bagi banyak pelaku usaha dalam menyusun langkah setahun ke depan.

Bagi Presiden Direktur PT Agro Investama Group Petrus Tjandra, Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Dia memaknai imlek sebagai ruang kontemplasi, dimulai dari perjalanan usaha, keseimbangan hidup, dan arah industri sawit yang ia tekuni puluhan tahun.

Sebagai pengusaha berdarah Tionghoa, Petrus tidak menampik bahwa fengsui kerap menjadi bahan perbincangan menjelang Imlek. Banyak relasi bisnis membicarakan elemen, arah angin, hingga sektor yang diprediksi menguat. Namun, ia memilih menempatkan fengsui sebagai bagian dari kearifan budaya yang dihormati, bukan penentu utama keputusan bisnis.

“Fengsui itu bagi saya sesuatu yang bisa diperhatikan. Itu bagian dari tradisi dan budaya. Tapi keputusan usaha tetap harus berdasarkan pertimbangan yang matang. Jadi, berjalan seimbang,” kata Petrus kepada SUAR, Rabu (11/2/2026).

Ia mengaku tidak menutup diri terhadap berbagai pandangan, termasuk prediksi tahunan. Namun, dalam praktiknya, ia lebih percaya pada kombinasi antara kerja keras, integritas, dan keyakinan spiritual. Baginya, keberhasilan usaha tidak berdiri di atas satu variabel.

Presiden Direktur PT Agro Investama Group, Petrus Tjandra. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id

“Kalau kita sudah berbuat baik dan benar, saya percaya hasilnya akan mengikuti. Kalau pun ada kegagalan, itu hanya soal waktu,” kata dia.

Petrus juga terbuka mengakui bahwa menjaga keseimbangan antara ambisi bisnis dan kehidupan pribadi bukan hal sederhana. Dunia usaha, terutama komoditas seperti sawit, penuh dinamika. Saat harga naik, muncul dorongan untuk berekspansi. Saat harga turun, ada keinginan untuk bertahan lebih kuat. Dalam kondisi seperti itu, ia memilih kembali pada doa dan refleksi sebagai cara menjaga ritme hidup.

“Ambisi itu manusiawi. Tapi keseimbangan itu sulit. Pada akhirnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa,” jelasnya.

Refleksi personal itu berjalan beriringan dengan pembacaan rasional terhadap pasar. Dilansir dari CLSA Feng Shui Index 2026, sektor pertanian dan crude palm oil (CPO) disebut-sebut sebagai salah satu sektor yang berpotensi menguat di Tahun Kuda Api, meski dinamika pasar diperkirakan bergerak cepat dan penuh kejutan. Awal tahun disebut relatif tidak stabil, namun kondisi membaik di pertengahan hingga akhir tahun.

Bagi Petrus, prediksi tersebut menarik sebagai gambaran sentimen pasar. Ia melihatnya bukan sebagai kepastian, melainkan sebagai cermin bagaimana pasar global membaca posisi sektor komoditas, termasuk sawit Indonesia.

Optimismenya terhadap industri sawit bukan tanpa dasar. Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar dunia. Dalam pandangannya, posisi itu memberi ruang besar bagi Indonesia untuk memperkuat daya tawar dan mengelola keseimbangan pasokan serta permintaan global.

“Selama kita bisa menjaga supply-demand dan membaca pasar dengan baik, harga akan baik. Saya optimis,” ujarnya.

Momentum Tahun Kuda, yang dalam banyak interpretasi fengsui identik dengan energi, kecepatan, dan perubahan, bagi Petrus terasa selaras dengan kondisi industri saat ini yang bergerak cepat, penuh dinamika, tetapi menyimpan peluang besar bagi yang siap beradaptasi.

“Saya optimis sekali di tahun baru (Imlek) ini,” pungkasnya.

Sementara itu, pengusaha lainnya punya cerita dan pandangan beragam soal feng shui sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bisnis. Namun, mereka tetap menghormatinya sebagai bagian dari budaya masyarakat Tionghoa.

Komisaris Utama PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) Hero Gozali mengaku tidak menerapkan perhitungan feng shui dalam aktivitas usahanya sehari-hari. Namun demikian, ia tetap menghargai praktik tersebut sebagai tradisi budaya.

“Tidak (menerapkan), tapi saya menghormati sebagai budaya,” kata Hero kepada SUAR.

Komisaris Utama PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) Hero Gozali menyampaikan sambutan dalam penawaran saham perdana (IPO) PJHB. Foto: Uswatun Hasanah/Suar.id

Kendati demikian, Hero tetap memaknai Tahun Kuda Api dengan penuh keyakinan. Ia melihat momentum Tahun Baru Imlek sebagai awal yang baik untuk memperkuat semangat dan target bisnis ke depan.

Menurutnya, optimisme menjadi sikap yang tidak bisa ditawar dalam dunia usaha, terlepas dari dinamika pasar yang terus berubah.

“Buat kami, kami selalu optimis, apalagi ini momentum Tahun Baru Imlek. Selalu, dan wajib untuk optimis,” ujarnya.

Bagi Hero, pergantian tahun bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan pengingat untuk menjaga keyakinan, konsistensi, dan keberanian mengambil peluang di tengah tantangan bisnis yang ada.

Sikap serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia. Ia menegaskan tidak menggunakan hitungan feng shui dalam menentukan langkah bisnisnya.

Menurut Anne, dalam pandangannya tidak ada hari baik atau hari buruk dalam menjalankan usaha. Ia meyakini setiap waktu memiliki peluang yang sama untuk menghasilkan kinerja positif.

"Setiap saat selalu baik," ujarnya.

Simak juga:

Kosmologi Dinasti hingga Strategis Citra Korporasi Modern

Dalam artikel yang dimuat di Mandarinable: Journal of Chinese Studies edisi April 2025, Refan Aditya menjelaskan bahwa Feng Shui sejak awal berkembang sebagai bagian dari kosmologi Tiongkok kuno.

Istilah Feng Shui secara harfiah berarti angin (feng) dan air (shui), dua unsur yang dipercaya membawa energi kosmik atau Chi (Qi). Energi ini diyakini mengalir melalui gunung, sungai, tanah, dan bangunan, memengaruhi kesejahteraan manusia.

Menurut Refan, praktik ini telah digunakan sejak Dinasti Zhou, jauh sebelum era Konfusius. Salah satu rujukan klasiknya adalah Zang Shu karya Guo Pu pada abad ke-4, yang membahas prinsip penentuan lokasi pemakaman berdasarkan kondisi lanskap. Dalam tradisi tersebut, ruang tidak dipahami sebagai lokasi netral, melainkan sebagai “tempat” yang memiliki dimensi moral dan kosmik.

Konfigurasi lanskap ideal dalam Feng Shui digambarkan melalui simbol naga hijau, harimau putih, kura-kura hitam, dan burung merah. Prinsip Yin dan Yang menjadi dasar keseimbangan dalam membaca topografi dan orientasi bangunan.

“Secara praktis, Feng Shui mengenal dua pendekatan utama, aliran Situasi yang menekankan kondisi geografis seperti aliran sungai dan kontur pegunungan, serta aliran Arah yang memperhatikan orientasi bangunan dan keselarasan waktu kelahiran penghuni,” jelas Refan.

Baca juga:

75 Tahun Bilateral Indonesia-Tiongkok, Siap Jajaki ‘Next Level’
Tak hanya bersifat transaksional dan diplomatis, dukungan Indonesia dan Tiongkok terhadap agenda prioritas masing-masing negara akan diikuti transfer pengetahuan, teknologi, hingga jejaring sumber daya manusia yang mulai terbentuk selama beberapa tahun terakhir.

Dalam perkembangan sejarahnya, Feng Shui tidak hanya digunakan untuk hunian dan pemakaman, tetapi juga tata kota dan permukiman. Lanskap dipandang sebagai entitas hidup yang harus dijaga keseimbangannya.

Transformasi besar terjadi ketika modernitas memperkenalkan paradigma ruang sebagai “space” yang netral, terukur, dan dapat dimanfaatkan secara teknis. Dalam kosmologi Feng Shui, ruang adalah “place” yang relasional dan sarat makna.

Perubahan cara pandang ini, menurut kajian William Li Chang dan Peirchyi Lii dalam artikel Feng Shui and its Role in Corporate Image and Reputation: A Review from Business and Cultural Perspectives, menggeser fungsi Feng Shui dari sistem kosmologis menjadi praktik yang lebih pragmatis.

Pengunjung memenuhi Tongqing Street yang berada tepat di luar Gerbang Timur Summer Palace jelang Imlek atau Festival Musim Semi di Beijing, China, Sabtu (14/2/2026). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/foc.

Kajian tersebut menyebut bahwa di tengah urbanisasi dan ekspansi industri properti, Feng Shui kini kerap dimanfaatkan sebagai strategi pemasaran dan pembentukan citra perusahaan. Konsultan Feng Shui dilibatkan dalam perencanaan perumahan, pusat perbelanjaan, hingga gedung perkantoran. Penataan pintu masuk, orientasi bangunan, hingga desain interior kerap disesuaikan dengan prinsip geomansi untuk menarik keberuntungan dan meminimalkan risiko usaha.

Perubahan ini mencerminkan proses negosiasi budaya. Nilai kosmologis tetap dipertahankan sebagai identitas tradisional, namun praktiknya disesuaikan dengan logika ekonomi modern. Dalam konteks bisnis, Feng Shui dipandang dapat memengaruhi persepsi konsumen, reputasi perusahaan, serta citra korporasi di pasar Asia.

Meski mengalami komersialisasi, William dan Lii menyebut jika sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dimensi ekologis Feng Shui tidak sepenuhnya hilang.

Studi mengenai “Feng Shui forest” di Hong Kong dan Korea Selatan mencatat bahwa hutan yang dilindungi berdasarkan prinsip tradisional berkontribusi pada konservasi keanekaragaman hayati, penyimpanan air, serta mitigasi banjir. Dalam praktik ini, geomansi berfungsi sebagai mekanisme konservasi berbasis komunitas.

Di Indonesia sendiri praktik Feng Shui masih dijumpai di komunitas Tionghoa, terutama dalam penentuan orientasi rumah, tata ruang usaha, dan lokasi pemakaman keluarga. Namun generasi muda perkotaan cenderung memaknainya secara lebih pragmatis sebagai pertimbangan bisnis atau simbol budaya, bukan lagi sebagai sistem kosmologi menyeluruh.

Baca selengkapnya