Perusahaan Indonesia rupanya kerapkali menjadi sponsor klub sepak bola dunia. Yang teranyar ada kerjasama BRI dengan FC Barcelona. Sebelumnya ada Garuda Indonesia dengan Liverpool, Dua Kelinci dengan Real Madrid, dan masih banyak lainnya. Apa yang mereka cari? Bagaimana perhitungan bisnisnya?
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berkolaborasi dengan FC Barcelona melalui peluncuran kartu debit co-branding BRI Debit FC Barcelona dalam rangkaian BRI Barça Week 2026 yang digelar pada 13–15 Februari 2026 di Grand Atrium Mall Kota Kasablanka, Jakarta. Peluncuran produk dilakukan pada Sabtu, 14 Februari 2026, sebagai penanda dimulainya kemitraan strategis antara kedua institusi tersebut.
Melalui kerja sama ini, BRI menghadirkan kartu debit edisi khusus bagi nasabah yang mengusung identitas resmi klub asal Spanyol tersebut. Pemegang BRI Debit FC Barcelona mendapatkan berbagai benefit eksklusif, termasuk diskon untuk berlangganan Culers Premium Membership melalui situs resmi klub.
Keanggotaan tersebut memberikan sejumlah privilese, seperti akses pembelian tiket lebih awal (early access to tickets) dan potongan harga untuk berbagai penawaran lainnya. Setiap subscription baru juga disertai donasi sebesar 1 euro dari FC Barcelona untuk FC Barcelona Foundation.
Secara fungsi, kartu co-branding ini tetap memiliki seluruh fitur kartu debit BRI pada umumnya. Kartu dapat digunakan untuk transaksi domestik maupun internasional, tarik tunai, pembayaran digital, serta terintegrasi dengan aplikasi BRImo.
BRI menyatakan kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk merespons besarnya antusiasme penggemar sepak bola di Indonesia sekaligus memperkuat kedekatan layanan perseroan dengan masyarakat. FC Barcelona dinilai sebagai brand global dengan basis penggemar yang kuat di Indonesia.
Secara global, klub tersebut memiliki sekitar 529 juta pengikut, dengan 243 juta berada di kawasan Asia Pasifik dan 53 juta di Asia Tenggara. Dari jumlah tersebut, Indonesia disebut berkontribusi sekitar 55% atau setara 28 juta penggemar.

Direktur Network and Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyampaikan kolaborasi BRI dan FC Barcelona mempertemukan dua institusi yang memiliki kesamaan nilai, yakni tumbuh bersama masyarakat dan terus berinovasi. Ia mengaitkan slogan Barcelona “Més que un club” atau lebih dari sekadar klub, dengan semangat BRI sebagai “Satu Bank untuk Semua”.
Menurut Aquarius, BRI yang memiliki 163 juta nasabah melihat keselarasan dengan basis penggemar FC Barcelona di Indonesia yang tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Denpasar, Makassar, dan Medan. Ia menyebut kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama merek, melainkan upaya membangun koneksi emosional dengan jutaan masyarakat Indonesia.
Managing Director FC Barcelona Manel del Río menyatakan kemitraan dengan BRI mencerminkan komitmen klub dalam memperluas kolaborasi strategis di kawasan Asia Pasifik. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai wilayah penting dengan basis penggemar global yang luas, termasuk Indonesia.
Menurutnya, melalui berbagai produk yang dihadirkan dalam kemitraan ini, FC Barcelona akan terus mempromosikan merek klub secara global serta memperkuat koneksi dengan audiens baru di Indonesia.
BRI menyatakan kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan bisnis sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang lebih relevan bagi nasabah, sejalan dengan upaya perseroan memperkuat posisinya sebagai bank yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.
Jejak korporasi RI di arena sepak bola dunia
BRI tidak sendiri. Pasalnya, sejumlah korporasi Indonesia dalam dua dekade terakhir tercatat menjadi sponsor resmi klub-klub sepak bola raksasa dunia. Langkah tersebut ditempuh berbagai perusahaan dari sektor penerbangan, perbankan, asuransi, energi, hingga barang konsumsi sebagai bagian dari strategi memperluas eksposur merek di pasar internasional.
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) misalnya, menjalin kerja sama sponsorship dengan Liverpool FC pada periode 2012 hingga 2015. Maskapai pelat merah itu menyatakan tujuan kerja sama tersebut untuk meningkatkan global awareness dan mendukung ambisi perseroan menjadi pemain global di industri penerbangan.
Di sektor perbankan, PT Bank Negara Indonesia (BNI) pernah menjadi sponsor Chelsea FC pada 2012 hingga 2018. Dalam masa kemitraan tersebut, BNI turut mendatangkan Chelsea ke Indonesia untuk menjalani laga di Stadion Gelora Bung Karno pada 2013.
Sebelum ditutup karena terjerat kasus hukum, perusahaan asuransi milik negara, Jiwasraya, juga tercatat sempat menjalin kerja sama dengan Manchester City FC pada 2014 selama dua tahun. Kerja sama tersebut sempat menjadi sorotan publik seiring kondisi keuangan perusahaan saat itu.
Dari sektor makanan ringan, Dua Kelinci melalui produk Kacang Dua Kelinci pernah menjadi sponsor Real Madrid CF pada 2011 hingga 2014. Kerja sama tersebut berlanjut kembali pada periode 2020 hingga 2024. Real Madrid dikenal sebagai salah satu klub elite Eropa yang memiliki basis penggemar besar di Indonesia.
Baca juga:
Perusahaan minuman energi Extra Joss juga menjalin kemitraan dengan Manchester City pada 2013. Selain itu, Extra Joss tercatat menjadi sponsor Liverpool pada 2019, memperluas eksposur mereknya melalui klub Liga Inggris.
Di sektor perbankan syariah, Bank Muamalat menjadi sponsor Arsenal FC pada 2016 hingga 2018. Kerja sama tersebut menempatkan Bank Muamalat sebagai salah satu institusi keuangan Indonesia yang terlibat dalam sponsorship klub besar Eropa.
Grup usaha nasional Bakrie Group mengambil langkah berbeda dengan melakukan investasi langsung di klub luar negeri. Melalui kepemilikan 100 persen saham, Bakrie Group mengakuisisi Brisbane Roar FC, klub yang berlaga di kompetisi Australia.
PT Bank Danamon juga pernah menjadi sponsor Manchester United FC pada 2006. Dalam kerja sama tersebut, Bank Danamon memperoleh hak untuk menerbitkan kartu kredit dengan logo klub berjuluk Setan Merah itu.
Di sektor energi, Pertamina menjalin kerja sama dengan klub Italia, AC Milan. Kemitraan ini memanfaatkan besarnya basis penggemar AC Milan di Indonesia sebagai bagian dari strategi komunikasi merek perusahaan.
Sementara itu, Multisada Arah Sarana juga pernah menjadi sponsor Manchester United selama tiga tahun sejak 2013. Melalui kerja sama tersebut, produk ban Archilles dan Corsa digunakan oleh pemain klub tersebut.
Tangkap peluang dari fanatisme sepak bola
Langkah sejumlah perusahaan Indonesia menjadi sponsor klub sepak bola dunia dinilai sebagai strategi pemasaran terintegrasi yang memanfaatkan basis penggemar domestik, memperkuat diferensiasi merek, hingga mendorong penjualan produk.
Pengamat bisnis dan pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure, Yuswohady, menyebut sponsorship klub global tidak berdiri sebagai sekadar ajang penempatan logo, melainkan memiliki tiga level pemanfaatan utama, yakni branding, advertising, dan selling.
Fenomena ini terlihat dari kerja sama perusahaan nasional dengan klub-klub besar Eropa seperti FC Barcelona, Liverpool FC, Manchester City, dan Chelsea FC. Sejumlah perusahaan Indonesia yang pernah tercatat menjadi sponsor antara lain Garuda Indonesia, Jiwasraya, BNI, dan terbaru BRI.
Menurut Yuswohady, pada level pertama yaitu branding, perusahaan memanfaatkan reputasi klub untuk meningkatkan awareness dan citra merek. Klub-klub besar Eropa identik dengan prestasi, sejarah panjang, dan karakter kuat yang telah dibangun selama puluhan tahun.
“Klub-klub ini punya reputasi pemenang dan identitas yang kuat. Ketika sebuah brand menempel di sana, reputasinya ikut terbawa,” ujar Yuswohady kepada SUAR, Senin (16/2/2026).

Ia menjelaskan, tidak banyak brand yang dapat menempel pada klub papan atas dunia. Karena itu, ketika sebuah perusahaan Indonesia berhasil menjadi sponsor, posisi tersebut menciptakan diferensiasi yang menonjol dibanding pesaing di dalam negeri.
Level kedua adalah advertising atau activation. Pada tahap ini, sponsorship mulai dikaitkan dengan aktivitas promosi. Logo klub dapat digunakan dalam kampanye pemasaran, program diskon, maupun konten komunikasi yang memanfaatkan momentum pertandingan.
Adapun level ketiga adalah selling, ketika kerja sama secara langsung dihubungkan dengan produk yang dijual. Yuswohady mencontohkan kolaborasi perbankan dengan klub Eropa yang diwujudkan dalam penerbitan kartu debit atau kartu kredit edisi khusus klub tertentu.
“Biasanya tiga level itu diutilisasi semua. Kalau sudah membayar mahal untuk hak sponsorship klub Eropa, pasti dimaksimalkan,” katanya.
Ia menambahkan, sponsorship juga menciptakan efek stand out. Dalam periode kontrak tertentu, sebuah brand bisa menjadi satu-satunya perwakilan dari kategori industrinya di klub tersebut, sehingga tidak memiliki pesaing langsung dalam eksposur yang sama.

Yuswohady mengingat momen ketika logo Garuda Indonesia tampil di papan LED pinggir lapangan saat pertandingan Liverpool. Kemunculan tersebut, menurutnya, memunculkan kebanggaan tersendiri bagi audiens Indonesia yang menyaksikan pertandingan.
Selain eksposur di stadion, kerja sama dapat diwujudkan dalam bentuk menghadirkan pemain ke Indonesia untuk kegiatan komunitas, membuat konten iklan dan media sosial bersama pemain, hingga memproduksi merchandise kolaboratif dalam periode kontrak tertentu.
Ia menekankan besarnya komunitas penggemar klub Eropa di Indonesia. Fanatisme tersebut menciptakan emotional connection yang kuat. Ketika sebuah brand dikaitkan secara resmi dengan klub, asosiasi emosional itu dapat melekat pada brand sponsor.
Pandangan serupa disampaikan pengamat manajemen Hermawan Kertajaya. Ia menilai keputusan perusahaan Indonesia menjadi sponsor klub global didorong oleh besarnya basis penggemar klub tersebut di pasar domestik serta kesesuaian dengan target promosi perusahaan.
Menanggapi kerja sama BRI dengan Barcelona, Hermawan menyebut klub asal Spanyol itu memiliki jumlah penggemar besar di Indonesia. Hal tersebut dinilai menjadi dasar pemanfaatan sponsorship untuk mendekati komunitas penggemar di berbagai kota.
“Karena Barcelona punya penggemar banyak di Indonesia, BRI mau mengambil manfaat dari situ. Fans-nya banyak sehingga bisa sponsor kegiatan-kegiatan mereka di Jakarta atau kota lain,” ucap Hermawan.

Menurut Hermawan, sponsorship menjadi relevan apabila selaras dengan target pasar perusahaan. Manfaat bisnis yang diincar juga tidak berhenti pada penempatan logo, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk turunan yang terkait langsung dengan bisnis inti.
Ia mencontohkan penerbitan kartu kredit atau kartu debit edisi khusus bertema klub sebagai salah satu bentuk monetisasi. Penggemar yang fanatik cenderung ingin mengekspresikan identitasnya melalui atribut atau produk yang berhubungan dengan klub favoritnya.
Hermawan menjelaskan konsep pemasaran yang ia sebut sebagai PDB, yakni Positioning, Differentiation, dan Branding. Dalam konteks ini, klub seperti Barcelona memiliki karakter unik yang berbeda dari klub lain, sehingga dapat memperkuat positioning dan diferensiasi sponsor.
Ia juga menyinggung kuatnya loyalitas penggemar klub sepak bola seperti Manchester United dan Chelsea. Loyalitas tersebut dinilai konsisten terlepas dari hasil pertandingan, sehingga menciptakan hubungan emosional jangka panjang.
Terkait pengaruh eksposur di Eropa terhadap keputusan konsumen lokal, Hermawan menyatakan bahwa dalam konteks sepak bola, dampaknya signifikan. Popularitas klub yang disaksikan melalui siaran pertandingan internasional memperkuat persepsi dan kebanggaan penggemar di Indonesia.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengukuran dampak secara bisnis. Perusahaan perlu menghitung biaya sponsorship yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan hasil penjualan produk turunan, seperti jumlah kartu yang diterbitkan, volume transaksi, serta kontribusinya terhadap pendapatan.
“Kalau sponsor keluar duit berapa, kemudian jual kartu Barca terjual berapa, omzet yang dihasilkan berapa. Itu bisa diukur langsung,” kata Hermawan.