Laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi. Dengan memperkuat industri ini di bagian hulu akan menjadi jembatan menuju hilirisasi dalam menghadapi dinamika perdagangan global.
Setelah sempat terpuruk ke titik terendah di angka -8,06% di triwulan III-2021, industri ini berhasil bangkit hingga mencapai puncak pertumbuhan sebesar 17,32% pada triwulan II-2023. Meskipun data terbaru pada triwulan III-2025 menunjukkan perlambatan ke angka 5,98%, gambaran besar ini menegaskan bahwa sektor elektronik tetap menjadi mesin pertumbuhan manufaktur yang resilien di tengah tantangan normalisasi permintaan pascapandemi.
Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik di Indonesia masih didominasi oleh industri hilirnya, yaitu berupa produk jadi seperti telepon pintar, televisi, komputer, laptop, dan sejenisnya. Kuatnya industri hilir tersebut didorong oleh regulasi TKDN dan pasar domestik atau konsumen elektronik yang besar.
Akan tetapi, fondasinya di bagian hulu masih belum kuat karena bergantung pada impor. Hal tersebut yang menjadikan industri ini masih rawan dan fluktuatif tergantung pada harga komponen.
Kabar baiknya, lonjakan signifikan pada sisi ekspor dalam 2 tahun terakhir menumbuhkan optimisme akan kemandirian industri hulu. Data nilai ekspor periode Januari-Oktober 2025 mengungkapkan bahwa komoditas semikonduktor dan komponen elektronik lainnya telah menjadi primadona baru dengan nilai mencapai 4.322,8 juta dollar AS. Angka ini melonjak dibandingkan tahun 2024 yang hanya sebesar 2.580,9 juta dollar AS.
Di sisi lain, ekspor komputer dan perlengkapannya cenderung stagnan di angka 1.700,4 juta dollar AS. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran fokus komoditas dari perangkat keras ke komponen inti yang lebih strategis.
Potensi industri semikonduktor di Tanah Air tidak lepas dari pengaruh dinamika ekonomi global, di mana persaingan supremasi teknologi antara negara-negara besar telah memaksa restrukturisasi rantai pasok dunia. Indonesia kini berada di posisi strategis untuk mengisi celah tersebut dengan mengandalkan modal kekayaan sumber daya alam seperti pasir silika dan nikel sebagai bahan baku komponen elektronik. Hilirisasi semikonduktor bukan lagi sekadar wacana ekonomi, melainkan langkah untuk memastikan stabilitas industri dalam negeri menghadapi guncangan pasokan global di masa depan.
Potensi besar industri ini mulai menunjukkan wujud nyata melalui inisiatif investasi masif di Batam. Konsorsium perusahaan asal Amerika Serikat dan Jerman telah berkomitmen untuk membangun kawasan industri semikonduktor skala besar di Pulau Galang dengan total nilai investasi mencapai 26,73 miliar dollar AS atau sekitar Rp 444 triliun. Proyek yang ditargetkan memulai konstruksi pada awal 2026 ini akan mencakup fasilitas hilirisasi pasir silika, manufaktur kaca berteknologi tinggi, hingga produksi panel surya dan wafer semikonduktor.
Kehadiran konsorsium AS-Jerman ini diharapkan menjadi katalisator bagi kebangkitan industri elektronik nasional yang lebih mandiri dan kompetitif. Selain menyerap ratusan ribu tenaga kerja, proyek ini diperkirakan dapat menyumbang hingga 8% pada proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2029.
Dengan terbangunnya pusat manufaktur chip di Batam, Indonesia siap bertransformasi dari sebagai konsumen teknologi menjadi basis produksi strategis dalam rantai pasok semikonduktor dunia, sekaligus mengokohkan fondasi bagi masa depan ekonomi digital yang berdaulat.