Geopolitik Iran dan Lonjakan Harga Minyak 2026

Konflik AS dengan Iran yang memanas dikhawatirkan mengganggu distribusi minyak mentah. Dampaknya, harga minyak berpotensi terkerek naik.

Geopolitik Iran dan Lonjakan Harga Minyak 2026

Dunia kembali berada dalam bayang-bayang krisis energi setelah eskalasi militer besar-besaran melanda Timur Tengah baru-baru ini. Serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sasaran strategis di Iran telah memicu kekhawatiran global.

Konflik yang kian memanas sejak akhir Februari ini turut memicu terganggunya stabilitas pasokan di Selat Hormuz, jalur nadi utama bagi distribusi minyak mentah dunia. Sebab, sekitar 20% distribusi minyak dunia melalui kawasan ini. Konflik ini tidak hanya menciptakan ketidakpastian politik, tetapi juga langsung memberikan tekanan pada pasar komoditas energi.

Memasuki tahun 2026, tren harga minyak mentah menunjukkan volatilitas yang tinggi. Berdasarkan data terbaru per 2 Maret 2026, pasar mengalami lonjakan yang signifikan di mana harga Brent telah menyentuh angka 77 Dollar AS/Barel, meningkat sekitar 22,40% dibandingkan posisi awal tahun. 

Kenaikan tajam ini terlihat jelas sejak akhir Februari, di mana hanya dalam waktu satu minggu (23 Februari hingga 2 Maret), harga Brent melonjak lebih dari 6% sebagai respons instan terhadap memanasnya kawasan Teluk. WTI pun mengikuti pola serupa, merangkak naik ke angka 71 Dollar AS/Barel, menandakan bahwa premi risiko perang kembali mendominasi sentimen perdagangan.

Jika menilik perjalanan harga sepanjang 2026, lonjakan di awal Maret ini merupakan puncak dari rentetan fluktuasi mingguan. Pada Januari, harga sempat berada di level yang relatif rendah, yakni di kisaran 59 Dollar AS/Barel untuk WTI, karena pasar masih optimis terhadap ekspansi produksi dari Guyana dan Brasil. 

Namun, momentum berbalik saat konflik Iran memanas sehingga penurunan yang sempat terjadi di awal Februari sebesar 2,5% seolah terhapus oleh lonjakan beruntun dalam dua minggu terakhir yang membawa harga ke level tertinggi baru di tahun ini.

Dinamika ini mengingatkan kita pada pola peristiwa global dalam lima tahun terakhir yang selalu menjadi kemudi harga minyak. Kita tentu masih mengingat krisis gas Eropa dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2021-2022 yang sempat melambungkan harga hingga di atas 110 Dollar AS/Barel. 

Begitu pula dengan kebijakan pangkas produksi OPEC+ pada 2023 dan ketegangan Iran-Israel di tahun 2024 yang masing-masing menjaga harga tetap di area 80-an Dollar AS/Barel. Setiap peristiwa besar tersebut menggambarkan bahwa meskipun ada upaya stabilitas harga, faktor geopolitik tetap menjadi variabel yang paling sulit diprediksi dan paling berdampak instan.

Ke depan, pelaku pasar dan industri di seluruh dunia kini memantau dengan cermat apakah lonjakan di awal Maret 2026 ini akan berlanjut atau mereda. Jika eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran terus meningkat dan meluas sehingga mengganggu operasional kilang atau jalur kapal tanker secara permanen, bukan tidak mungkin harga minyak akan kembali menguji level psikologis di atas 100 Dollar AS/Barel seperti pada masa awal krisis Ukraina. 

Saat ini, stabilitas ekonomi global bergantung pada seberapa cepat ketegangan di Timur Tengah dapat diredam sebelum dampak kenaikan biaya energi merembet menjadi inflasi yang tak terkendali di berbagai negara. Pasalnya, Timur Tengah sebagai pemasok sumber energi terbesar dunia membawa pengaruh besar dalam kendali stabilitas global.

Baca selengkapnya