Gemilang di 2025, Industri Makanan dan Minuman Jadi Harapan Penopang di 2026

Industri makanan dan minuman (mamin) terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung manufaktur Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Di tahun 2026, Industri mamin menjadi salah satu sektor industri yang dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Gemilang di 2025, Industri Makanan dan Minuman Jadi Harapan Penopang di 2026

Berdasarkan data historis dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri makanan dan minuman (mamin) menunjukkan daya pemulihan yang luar biasa pascapandemi. Ini ditandai dengan lonjakan pertumbuhan PDB sebesar 8,68% pada kuartal IV-2022.

Kenaikan yang cukup drastis ini dipicu oleh lonjakan konsumsi rumah tangga selama libur akhir tahun. Hal ini menjadi bukti betapa sensitif dan kuatnya daya serap pasar domestik terhadap produk mamin saat aktivitas masyarakat kembali normal.

Memasuki fase normalisasi di tahun 2023, pertumbuhan industri mamin sempat terkoreksi ke angka 5,33% di kuartal pertama sebelum akhirnya menyentuh titik terendah di kuartal III sebesar 3,28%. Namun, alih-alih terpuruk, periode ini justru menjadi titik balik bagi tren pertumbuhan "menanjak tanpa interupsi".

Keuletan industri ini terlihat dari konsistensinya merangkak naik hingga berhasil menembus angka psikologis 5% dan mencapai performa gemilang sebesar 6,49% pada kuartal III-2025, yang mencerminkan stabilitas jangka panjang yang solid.

Salah satu bukti keperkasaan sektor mamin adalah kemampuannya melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai contoh, pada kuartal III-2024, industri mamin tumbuh sebesar 5,82%, jauh mengungguli angka pertumbuhan PDB nasional yang berada di level 4,95% pada periode yang sama. Dengan kontribusi yang mendominasi PDB industri pengolahan non-migas dalam kisaran 38,4% hingga 40,17%, sektor mamin bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan mesin utama yang menjaga momentum ekspansi manufaktur Indonesia tetap stabil.

Daya tahan sektor ini juga turut terpotret melalui indikator Prompt Manufacturing Index (PMI) dari Bank Indonesia. Sepanjang rentang 2023 hingga 2025, indeks PMI industri mamin secara konsisten bertahan di zona ekspansi, yakni di atas angka 50. Meskipun terdapat proyeksi penurunan tipis menuju angka 51,8 pada akhir 2025, angka ini tetap berada di atas rata-rata kinerja industri manufaktur secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan bahwa para pelaku usaha masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk tetap berproduksi meskipun dihadapkan pada fluktuasi ekonomi global.

Menatap tahun 2026, potensi industri mamin tetap terbuka lebar, terutama didorong oleh inovasi produk yang lebih sehat dan digitalisasi rantai pasok yang semakin efisien. Sebagai sektor yang menunjang kebutuhan primer, industri ini diprediksi akan terus menjadi magnet investasi dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas permintaan domestik dan peningkatan standar kualitas produk ekspor menjadi modal kuat bagi industri mamin untuk melaju lebih kencang sebagai pemain kunci di pasar regional.

Namun, tantangan besar tetap mengintai di tahun depan. Ketidakpastian harga bahan baku global akibat perubahan iklim dan dinamika geopolitik menuntut industri untuk lebih adaptif dalam mengelola biaya produksi agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, pemenuhan standar keberlanjutan (sustainability) dan regulasi pelabelan nutrisi yang semakin ketat akan menjadi ujian bagi kreativitas produsen. Jika tantangan ini mampu dikonversi menjadi peluang, industri mamin dipastikan akan terus bertumbuh dan tetap menjadi pilar manufaktur yang tahan guncangan di tahun 2026.