Perusahaan baterai Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) telah memulai produksi massal baterai Sodium-Ion pertama untuk kendaraan komersial ringan melalui seri Tectrans II. Langkah ini merupakan respons terhadap tantangan biaya dan keterbatasan material lithium, sekaligus membuka babak baru bagi perusahaan otomotif seperti GAC Aion yang dijadwalkan mulai menggunakan baterai natrium pada kendaraan penumpang di kuartal kedua 2026.
Berdasarkan data grafik pasar global, prospek pertumbuhan kedua teknologi baterai ini sangatlah masif. Pasar Lithium-Ion diproyeksikan melonjak dari 83,6 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 229,1 miliar dolar AS pada 2030, tetap memegang peran utama untuk kendaraan performa tinggi.
Di sisi lain, baterai Sodium-Ion menunjukkan pertumbuhan eksponensial dari nilai 527,2 juta dolar AS ke angka 1,59 miliar dolar AS pada periode yang sama. Angka ini mencerminkan penerimaan pasar terhadap natrium sebagai solusi untuk segmen kendaraan listrik (EV), kendaraan logistik perkotaan, dan penyimpanan energi yang lebih terjangkau.
Bagi Indonesia, fenomena ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ketergantungan pada nikel untuk baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) menghadapi tantangan serius seiring berkurangnya permintaan nikel di beberapa segmen karena harga yang tinggi.
Bahkan, pemerintah Indonesia telah mulai memangkas target produksi bijih nikel menjadi sekitar 250 juta ton pada 2026 guna menjaga stabilitas harga di tengah persaingan dengan baterai tanpa nikel seperti LFP dan Natrium. Transformasi ini memaksa Indonesia untuk tidak lagi hanya terpaku pada nikel jika ingin tetap bersaing dalam rantai pasok global.
Di balik tantangan tersebut, Indonesia memiliki aset strategis yang sangat menguntungkan untuk ekosistem baterai Natrium. Data menunjukkan Indonesia memiliki cadangan Bauksit terbesar ke-6 di dunia dengan proyeksi produksi mencapai 4,7 juta ton pada 2025, yang berperan vital sebagai kolektor arus aluminium dalam sel natrium.
Selain itu, Indonesia berpotensi memimpin inovasi Hard Carbon untuk anoda baterai dengan memanfaatkan melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit dan batok kelapa, sebuah langkah hilirisasi hijau yang saat ini sedang gencar diteliti oleh BRIN dan institusi lokal.
Dari sisi kerjasama investasi senilai 6 miliar dolar AS antara CATL, melalui anak usahanya CBL, dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) telah mencerminkan kesadaran akan diversifikasi ini. Fasilitas produksi di Karawang yang ditargetkan beroperasi penuh pada akhir 2026 tidak hanya akan memproduksi sel baterai berbasis nikel, tetapi juga menjadi pusat penelitian dan pengembangan untuk energi terbarukan dan mobilitas listrik.
Dengan memaksimalkan hilirisasi mangan, bauksit, dan biomassa, Indonesia memiliki peluang untuk bertransformasi menjadi Battery Hub dunia yang fleksibel terhadap segala jenis perubahan kimia baterai di masa depan.