" } }

Survei Global: Optimisme di Tengah Persepsi Dunia yang Terbelah (1)

Laporan tahunan dari survei yang dilakukan Gallup International menggarisbawahi kondisi dunia yang terbelah dalam menatap tahun 2026: Optimisme di Global Selatan dan Kecemasan di dunia Barat.

Table of Contents

Persepsi tentang bagaimana kondisi nasional di tahun 2026 sangat dipengaruhi oleh persepsi tentang kondisi global. Dalam menatap 2026, setidaknya ada tiga hal yang ingin diketahui: harapan umum, ekspektasi ekonomi, dan pandangan tentang perdamaian global.

Pendapat di atas mengacu pada hasil Survei Akhir Tahun (End of Year/EOY) Gallup International yang rutin dilakukan setiap tahun sejak 1977 untuk mengetahui pandangan orang-orang yang menantikan tahun baru. Untuk mengetahui pendapat tentang tahun 2026, survei dilaksanakan selama Oktober hingga Desember 2025. Survei tersebut berhasil mewawancarai 59.636 responden yang berusia 18 tahun ke atas di 60 negara. Di setiap negara, terdapat responden hampir 1.000 orang.

Secara global, sebanyak 37% responden percaya bahwa 2026 akan menjadi tahun yang lebih baik dibandingkan 2025. Sementara, 25% responden memperkirakan akan lebih buruk dan 31% lainnya menyatakan tidak akan ada perubahan besar. Optimisme masih melebihi pesimisme di tingkat global.

Namun, dibandingkan dengan survei akhir tahun 2024, ketika 41% responden memperkirakan tahun mendatang akan lebih baik dan 24% menyatakan akan lebih buruk, berarti pada tahun 2026 ada sedikit kurang optimistis.

Tingkat optimisme bervariasi berdasarkan wilayah. Optimisme yang paling kuat berada di wilayah Global Selatan (Global South), dunia Arab, Asia Selatan, beberapa negara Afrika, dan Amerika Latin. Sementara optimisme di kawasan Eropa Barat dan Timur lebih rendah.

Prospek Ekonomi: Lebih Mencemaskan

Sentimen berubah tajam menjadi lebih negatif ketika responden ditanya tentang prospek ekonomi. Hanya satu dari empat responden (24%) yang membayangkan kemakmuran ekonomi terjadi pada tahun 2026, sementara porsi terbesar 40% responden membayangkan kesulitan ekonomi yang akan lebih dihadapi. Sebanyak 30% lainnya membayangkan, bahkan cenderung mengharapkan kondisi tetap sama.

Jawaban di atas menunjukkan penurunan dibandingkan akhir tahun 2024, ketika 29% responden membayangkan kemakmuran dan 35% membayangkan ekonomi yang sulit.

Pesimisme terhadap kondisi ekonomi sangat menonjol di negara-negara maju, terutama di Eropa Barat dan Timur. Responden di negara-negara seperti Perancis, Jerman, Austria, dan Finlandia memiliki pesimisme yang tinggi (di atas 50%) tentang kondisi ekonomi tahun 2026. Perancis dengan angka 64%, Jerman 58%, Austria 56%, dan Finlandia 52%.

Sebaliknya, ekspektasi ekonomi yang lebih positif terkonsentrasi di wilayah Arab, Asia Selatan, Afrika, dan sebagian Amerika Latin. Hal ini mencerminkan ekspektasi ekonomi yang berbeda antarwilayah. Secara global, lebih banyak negara yang pesimismtis terkait ekspektasi ekonomi ketimbang yang optimistis.

Perdamaian Global: Kekhawatiran Meluas Tentang Dunia yang Bermasalah

Kekhawatiran mengenai perdamaian global meluas melampaui ekonomi hingga stabilitas global. Secara global, 40% responden memperkirakan dunia akan menjadi lebih bermasalah pada tahun 2026. Sementara 26% responden percaya dunia akan menjadi lebih damai. Sebanyak 28% lainnya memperkirakan tidak akan ada perubahan besar.

Ekspektasi akan dunia yang lebih bermasalah paling kuat muncul di Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australia. Sementara pandangan yang relatif lebih optimis ditemukan di wilayah Arab, Asia Selatan, dan sebagian Afrika, di mana harapan untuk stabilisasi tetap ada.

Kondisi ini seakan terkonfirmasi ketika Amerika Serikat pada awal tahun 2026, tepatnya pada 3 Januari 2026, menyerang ibu kota Venezuela, Caracas, dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Setelah itu, ketegangan geopolitik juga meningkat karena rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland untuk tujuan keamanan nasional.

Sementara perang di Gaza, Palestina, belum berakhir, hubungan AS dan Iran juga semakin memanas dengan rencana AS untuk kembali menyerang Iran seiring dengan meningkatnya aksi demonstrasi di Iran. Sebelumnya pada Juni 2025, AS menyerang Iran dan mengklaim telah menghancurkan tiga fasilitas nuklir utama milik Iran.

Dua Kutub Berbeda

Jika dilihat dari tiga indikator sekaligus, yakni tentang harapan umum, ekspektasi ekonomi, dan pandangan tentang perdamaian global, maka negara-negara dunia akan terbagi dalam dua kutub yang berbeda.

Hanya sebagian kecil negara yang menunjukkan optimisme yang konsisten di ketiga indikator tersebut, seperti Arab Saudi, Kenya, Afrika Selatan, Kolombia, Pakistan, dan Moldova —negara-negara yang sebagian besar terletak di Global Selatan.

Kelompok yang jauh lebih besar berharap tentang masa depan, tetapi cemas tentang ekonomi dan/atau stabilitas global, seperti India, Argentina, Meksiko, Peru, Malaysia, Filipina, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Di kutub lainnya, sekelompok besar negara —terutama di Eropa Barat dan Timur— bersikap pesimis di ketiga dimensi tersebut, seperti Jerman, Perancis, Belgia, Belanda, Austria, Yunani, Polandia, Rumania, dan Bulgaria.

Jika dilihat berdasarkan kelas sosial-ekonomi, responden dari kelompok berpendapatan rendah lebih optimistis tahun 2026 akan membawa kemakmuran. Mayoritas responden (57%) kelas bawah ini membayangkan 2026 akan lebih makmur. Sementara 22% responden menyatakan 2026 akan lebih sulit. Sebanyak 20% menyatakan kondisi ekonomi akan sama saja.

Sedangkan responden yang merupakan kelompok berpendapatan tinggi menyatakan pandangan yang sebaliknya. Mayoritas responden berpendapatan tinggi (45%) menyatakan kondisi ekonomi 2026 akan lebih sulit. Hanya 16% yang membayangkan bisa lebih makmur. Sedangkan yang menyatakan kondisi ekonomi akan sama saja sebanyak 32% responden.

Pada kelompok responden berpendapatan menengah-bawah dan menengah-atas hampir berimbang pandangannya terkait apakah 2026 akan lebih makmur atau lebih sulit.

Responden yang merupakan kelompok berpendapatan tinggi tidak hanya pesimistis dengan kondisi ekonomi. Tetapi juga pandangannya tentang perdamaian global lebih negatif. Sebanyak 50% responden kelas atas ini menyatakan geopolitik dunia pada tahun 2026 akan lebih bermasalah. Hanya 17% responden yang menyatakan dunia akan lebih damai.

Dunia yang damai sesungguhnya menjadi kunci tercapainya stabilitas perekonomian. Sekali suatu negara atau kawasan dilanda konflik atau perang -apalagi jika sampai berkepanjangan- dampak ekonominya akan dirasakan secara luas oleh negara-negara lain yang terkoneksi dalam rantai pasok produksi. Sehingga, menjaga perdamaian merupakan jalan untuk mencapai kemakmuran.

Photo by Larm Rmah on Unsplash

Author

Read more