Strategi Industri Kosmetik Bertahan Lewat Inovasi Berbasis Nilai

Pendekatan inovasi berbasis nilai ini dinilai menjadi kunci ketahanan industri kosmetik nasional di tengah ketidakpastian global, perubahan preferensi konsumen, serta meningkatnya tuntutan keberlanjutan.

Strategi Industri Kosmetik  Bertahan Lewat Inovasi Berbasis Nilai
Para pengunjung pameran melihat inovasi Glow Cushion yang dipamerkan dalam Beauty Science Tech (BST) 2026. (Foto: Uswatun Hasanah/ SUAR)

Kemampuan perusahaan untuk mengembangkan teknologi dan terus berinovasi dari sisi sains menjadi kekuatan sebuah merek untuk bersaing di pasar global, demikian menurut salah satu pendiri perusahaan kosmetik ternama di Indonesia.

Group CEO Paragon Corp Harman Subakat memaparkan cara perusahaannya bertahan di tengah perkembangan teknologi yang kian cepat salah satunya dengan inovasi produk berbasis nilai. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci ketahanan industri kosmetik nasional di tengah ketidakpastian global, perubahan preferensi konsumen, serta meningkatnya tuntutan keberlanjutan.

“Teknologi itu kecepatannya luar biasa, bahkan lebih cepat dari cara kita berpikir dan beradaptasi. Pertanyaannya bukan sekadar teknologi apa yang kita gunakan, tetapi untuk arah apa teknologi itu kita bangun,” ujar Harman, dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).

Harman menilai, industri kosmetik saat ini tidak hanya menghadapi persaingan harga dan merek, tetapi juga perlombaan teknologi yang berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan adaptasi manusia dan organisasi.

Menurutnya, banyak perusahaan terjebak pada orientasi jangka pendek dengan menjadikan teknologi sebagai alat efisiensi semata. Padahal, ujar dia, ketahanan industri tidak cukup dibangun hanya lewat inovasi produk, melainkan harus ditopang oleh niat, kerangka nilai, dan tujuan pembangunan yang jelas.

Harman menegaskan, Paragon memilih jalur yang berbeda dengan memastikan setiap adopsi teknologi selaras dengan misi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung pembangunan Indonesia.

Teknologi, kata dia, seharusnya menjadi sarana untuk menciptakan keberlanjutan, meningkatkan keadilan, serta memperluas manfaat ekonomi, bukan justru memperlebar ketimpangan atau sekadar mempercepat konsumsi.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri kosmetik menghadapi tekanan berlapis, mulai dari fluktuasi biaya bahan baku, tuntutan keamanan dan kualitas produk, hingga ekspektasi konsumen terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. 

Dalam konteks ini, Harman menilai kemampuan bertahan industri sangat ditentukan oleh kesadaran dalam mengelola teknologi, sumber daya manusia, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Manusia dengan teknologi memiliki potensi besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu digunakan untuk membuat bumi dan kehidupan menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih beragam,” katanya.

Ia menambahkan, ketahanan industri tidak hanya diukur dari kekuatan finansial, tetapi juga dari konsistensi nilai dalam menghadapi perubahan. 

"Dengan menempatkan manusia sebagai pusat, Paragon berupaya menjadikan teknologi sebagai alat pemberdayaan dan penguatan daya saing nasional dalam jangka panjang," ujar dia.

Berbagai produk lipstik dipamerkan dalam Beauty Tech 2026 di Jakarta, 21 Januari 2026. (Foto: Uswatun Hasanah / SUAR)

Inklusif

Dari sisi inovasi, Paragon menghadirkan berbagai teknologi kecantikan berbasis data dan kecerdasan buatan (AI). Salah satunya adalah perangkat analisis kulit dan wajah yang tidak hanya membaca kondisi permukaan, tetapi juga mikrobioma kulit serta rasio wajah (face ratio) untuk memberikan rekomendasi perawatan dan makeup yang lebih presisi.

Vice President of Research & Development ParagonCorp, Sari Chairunnisa mengatakan dalam Beauty Tech 2026 menghadirkan kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, akademisi, regulator, hingga masyarakat umum.

Ia menyebut, salah satu daya tarik utama acara ini adalah pengalaman langsung yang memungkinkan pengunjung mengenali kondisi kulit, rambut, dan kulit kepala mereka dengan bantuan teknologi dan pendampingan para ahli.

Tahun ini, Paragon juga memperkenalkan pendekatan hyper-personalization, termasuk teknologi pencampuran warna lipstik yang disesuaikan dengan busana yang dikenakan.

Selain itu, Paragon meluncurkan skin shadeeksklusif yang dikembangkan dari riset lebih dari 1.500 data warna kulit perempuan Indonesia dan Malaysia.

Riset tersebut menemukan karakter olive tone khas Asia Tenggara yang selama ini belum banyak diakomodasi oleh produk global.

“Selama ini banyak konsumen Asia Tenggara kesulitan menemukan warna yang benar-benar pas. Di sinilah riset lokal menjadi keunggulan kompetitif,” jelas Sari.

Beauty Science Tech 2026 juga mencerminkan strategi Paragon dalam memperluas basis konsumennya. Selain perempuan, Paragon secara sadar menyasar segmen laki-laki dengan menciptakan safe space untuk konsultasi kulit dan rambut tanpa stigma.

“Laki-laki kini lebih aktif, lebih terekspos lingkungan, dan lebih sadar penampilan. Kebutuhan mereka terhadap skincare dan haircare juga meningkat,” ujar Sari.

Paragon mulai memberikan akses layanan kesehatan mental remaja dengan menghadirkan konsultasi psikolog berbasis digital, yang diperkuat dengan konsep psikodermatologi, yakni sebuah pendekatan yang menekankan keterkaitan kesehatan mental dengan kondisi kulit.

"Berbagai isu keberlanjutan juga diangkat seperti air, karbon, dan lingkungan, guna membangun kesadaran generasi muda bahwa tantangan global juga hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia," kata dia.

Sari optimistis industri kecantikan Indonesia memiliki soft power yang kuat untuk bersaing di pasar internasional, khususnya di Asia Tenggara. Menurutnya, sejumlah merek lokal telah diterima dengan baik oleh desainer, make-up artist, hingga model internasional.

Berbagai produk lipstik Paragon Corp dipamerkan dalam acara Press Launch Beauty Science Tech (BST) 2026, 21 Januari 2026 (Foto: Uswatun Hasanah / SUAR). /

Pedoman

Mantan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menegaskan pentingnya nilai dan purpose sebagai kompas perusahaan di tengah percepatan perubahan global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. 

Retno menyatakan bahwa perusahaan justru dituntut untuk tidak melepaskan nilai sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis.

“Di tengah ketidakpastian, kita justru membutuhkan nilai dan tujuan itu sebagai kompas. Jangan pernah surut atau melepas values,” kata Retno.

Ia mengungkapkan, berbagai data menunjukkan perusahaan yang konsisten menjadikan values dan purpose sebagai dasar operasional mampu mencatatkan kinerja jangka panjang yang lebih baik, bahkan tumbuh hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan perusahaan tanpa landasan purpose yang jelas. 

Selain itu, tingkat retensi karyawan di perusahaan berbasis nilai tercatat 40% lebih tinggi, sementara 73% konsumen cenderung mendukung perusahaan yang memiliki nilai kuat.

Menurut Retno, values dan purpose bukan sekadar jargon korporasi, melainkan harus berakar pada kemanfaatan bagi orang banyak. Ia mengingatkan agar transformasi, termasuk adopsi AI, tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan seperti solidaritas dan kepedulian sosial.

"Kalau nilai-nilai kemanusiaan itu hilang, kita justru tidak bergerak ke mana-mana,” tegasnya.