Seruan Dialog, Kesempatan, dan Kerja Sama dari Davos

Di tengah menguatnya erosi kepercayaan terhadap institusi multilateral, WEF diharapkan mampu mempertemukan perspektif yang beragam demi memperluas cakrawala para pengambil keputusan politik dan ekonomi.

Seruan Dialog, Kesempatan, dan Kerja Sama dari Davos
World Economic Forum 2026. Foto: Denis Balibouse/Reuters

Pembukaan Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, menggaungkan seruan pentingnya dialog, keterbukaan kesempatan, dan kerja sama menghadapi perubahan. Di tengah menguatnya erosi kepercayaan terhadap institusi multilateral, WEF diharapkan mampu mempertemukan perspektif yang beragam demi memperluas cakrawala para pengambil keputusan politik dan ekonomi.

CEO WEF Børge Brende menyatakan, dengan kehadiran lebih dari 3.000 partisipan dari 130 negara, termasuk 400 pemimpin politik, 65 kepala negara dan kepala pemerintahan, 850 CEO, serta 10 peraih Hadiah Nobel, Pertemuan Tahunan WEF 2026 memiliki makna historis, khususnya di tengah perkembangan geopolitik yang mengubah arsitektur ekonomi dan perdagangan tradisional selama ini.

"Kita berdiri di permulaan sebuah zaman baru. Zaman yang akan kita tentukan sendiri akan seperti apa ke depannya, dengan harapan tidak akan membawa kita pada kemunduran. Negara-negara dan pemimpin perusahaan dunia kini mencari cara memajukan agenda dan kepentingan bersama di tengah menguatnya ketidakpastian," ucap Brende dalam sambutan pembukaannya, Selasa (20/01/2026).

Menteri Luar Negeri Norwegia 2013-2017 itu menyatakan, kebijaksanaan dan pertimbangan para pengambil keputusan politik dan ekonomi menjadi sangat menentukan karena perubahan situasi ke depan dapat diperkirakan dari pembicaraan dan pertukaran gagasan dalam sepekan ke depan.

"Tahun lalu, WEF memperkirakan kemungkinan terjadinya kemerosotan ekonomi global mulai tahun 2025. Nyatanya, kita menyaksikan pertumbuhan ekonomi. Perdagangan juga bertumbuh 3%, yang membuktikan ketangguhan ekonomi global yang tetap berjalan, meski tidak dapat secepat dahulu," ujarnya.

Selain kapasitas para pengambil keputusan, perkembangan teknologi yang membentuk ulang wajah peradaban manusia juga menjadi variabel determinan. Tahun lalu, Brende mencatat, dunia menginvestasikan tidak kurang dari USD 1,5 triliun dalam pengembangan kecerdasan artifisial dan teknologi baru, dengan harapan bahwa keduanya akan menjadi motor pertumbuhan untuk masa yang akan datang.

"Namun, di atas semua itu, fondasi untuk bergerak ke depan adalah kerja sama dan dialog yang menjadi spirit Pertemuan Tahunan 2026. Saya sangat mengharapkan agar setelah acara ini selesai, langkah-langkah kolaboratif pemerintah dan dunia usaha di seluruh dunia sepanjang tahun ini menjadi langkah awal untuk masa depan yang lebih cerah dan sejahtera," pungkas Brende.

Panggung bagi semua

Melengkapi keterangan Brende, CEO BlackRock Inc. dan Co-Chair Pertemuan Tahunan WEF 2026 Laurence D. Fink menyatakan, forum tahunan yang dihadiri ribuan pengambil keputusan strategis seharusnya memiliki dampak yang terasa bagi mereka yang berada di luar. Apa daya, erosi kepercayaan pada institusi mapan dan kalangan elite terus terjadi di tengah kebangkitan politik populisme yang kian mengancam.

"Di saat dunia semakin kehilangan kepercayaan pada institusi multilateral, kita harus berupaya bersama-sama memulihkan kepercayaan tersebut, dengan memastikan semua suara terwakili. Kita harus lebih transparan, terlibat, dan mengusung kepentingan mereka yang tidak berkesempatan hadir di forum ini," tegasnya.

Fink menjelaskan, sejak Perang Dingin berakhir pada 1991, peradaban manusia telah mampu menciptakan total kekayaan lebih besar daripada total kekayaan sepanjang sejarah peradabannya. Namun, di saat bersamaan, distribusi kekayaan tersebut menyempit dan tidak dapat dirasakan secara konkret.

"Jika kita sungguh-sungguh menjadi forum ekonomi dunia, maka kita harus mendefinisikan kemakmuran lebih dari sekadar PDB atau market cap perusahaan di lantai bursa. Tidak. Kemakmuran bukan hanya itu, tetapi peningkatan taraf hidup yang semakin berkembang dari waktu ke waktu, kemakmuran yang dirasakan termasuk oleh mereka yang kurang beruntung," ucap Fink.

CEO BlackRock Inc. dan Co-Chair Pertemuan Tahunan WEF 2026 Laurence D. Fink menyampaikan sambutan pembukaan. Foto: Fabrice Coffrini/AFP

Berbeda dengan masa lampau, Fink mengingatkan bahwa AI semakin mampu dan memiliki kapasitas untuk menggantikan pekerja kerah putih seperti halnya teknologi menggantikan pekerja kerah biru saat globalisasi mulai meluas empat dasawarsa lalu. Sebuah rencana yang jelas dan terukur harus mulai disusun agar ketika ekonomi melaju, jangan sampai ada segelintir orang yang tertinggal hanya menjadi penonton kemajuan zaman.

"Dalam forum ini, kita tidak ingin mencari siapa yang benar, kita tidak mencari persetujuan, persetujuan, tetapi pemahaman dan sudut pandang yang lebih kaya dengan mengakui kebenaran pemikiran yang berbeda, dan membuat pemikiran kita lebih kaya dan lebih bijak," tuturnya.

Read also:

Dari Konfrontasi Geoekonomi, Cuaca Ekstrem, hingga Kemerosotan Ekonomi Diprediksi jadi Risiko Global di 2026
Laporan The Global Risks Report 2026 WEF mengungkap beragam risiko global yang berpotensi terjadi pada 2026 yang risiko konfrontasi geoekonomi dan konflik bersenjata, diikuti kejadian cuaca ekstrem, polarisasi masyarakat, misinformasi dan disinformasi, hingga kemerosotan ekonomi.

Fink mengusulkan bahwa WEF perlu memberikan bukti nyata bahwa forum tahunan ini benar-benar inklusif, bukan sekadar perkumpulan elite. Agar dialog dapat benar-benar substantif, WEF dapat mulai menyusun kemungkinan lain dari penyelenggaraan Pertemuan Tahunan di negara-negara yang sedang memacu pertumbuhan dan menjadi masa depan rantai pasok.

"Kita tidak harus berkumpul lagi di Davos, bisa juga di kota-kota seperti Detroit, Dublin, Jakarta, atau Buenos Aires, agar kita bisa melihat kenyataan lebih luas lagi, karena kita di sini tidak untuk memamerkan kesuksesan, tetapi memajukan kepentingan bersama, mewujudkan mimpi, dan mempertegas komitmen bahwa kemajuan ekonomi harus dinikmati sebanyak mungkin orang," pungkas Fink.

Eropa dan Tiongkok belajar

Mendapatkan kesempatan sebagai pemimpin politik pertama yang menyampaikan sambutan di Pertemuan Tahunan WEF 2026, Presiden European Commission Ursula von der Leyen menyatakan, meskipun situasi dunia sangat jauh berbeda dengan keadaan saat WEF dirintis pada 1971, pesan inti yang hendak dikemukakan melalui forum Pertemuan Tahunan relatif sama dan konsisten.

"Ketika Nixon Shocks terjadi pada 1971, seluruh sistem Bretton-Woods yang menopang tatanan ekonomi global secara efektif runtuh, tetapi ini membuka jalan pada tata dunia baru yang mengurangi ketergantungan. Dari peristiwa itu, Eropa selalu belajar bahwa kejutan geopolitik bisa dan harus menjadi kesempatan untuk menjadi lebih independen," tegas von der Leyen.

Presiden European Commission Ursula von Der Leyen. Foto: Gian Ehrenzeller/AFP

Dalam perubahan yang permanen dan berlangsung konstan, Eropa sadar pentingnya bertindak cepat dengan segala instrumen yang dimiliki. Salah satu langkah nyata tersebut adalah memperluas perjanjian dagang dengan Mercosur di Amerika Latin, menciptakan free trade area terbesar dengan kerja sama 31 negara untuk akses pasar mencapai 700 juta penduduk di dua benua, yang sejalan dengan Perjanjian Paris.

"Tahun lalu, kami mencapai kesepakatan dengan Meksiko, Indonesia, Swiss, Australia, Filipina, Thailand, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan banyak lagi. Pekan depan, saya akan menandatangani perjanjian dengan India; perjanjian yang akan menjadi 'induk semua perjanjian dagang'. Lewat langkah ini, kami menyatakan sikap tegas: fair trade, bukan tarif, adalah masa depan," cetusnya.

Berbekal kapasitas inovasi, skill, kapasitas pengembangan teknologi, dan regulasi yang kondusif dan predictable, von der Leyen menyatakan Eropa siap memobilisasi seluruh sumber daya Benua Biru untuk menarik investasi sebesar-besarnya. Tak hanya memaksimalkan aset yang sudah ada, Uni Eropa juga mendorong kemudahan berusaha lewat mekanisme EU Incorporated (EU Inc.)

"EU Inc. akan memastikan sebuah perusahaan dapat beroperasi penuh lintas batas di seluruh negara di Eropa, 48 jam sesudah pendaftaran diselesaikan secara online. Kami memberikan jaminan kemudahan berusaha untuk menjangkau seluruh pasar Eropa seperti halnya pasar di Amerika Serikat dan Tiongkok, meningkatkan aliran modal masuk, serta mendorong pertumbuhan yang adil. Inilah komitmen kami untuk turut berubah bersama dunia yang terus berubah," tukasnya.

Berbagi pandangan dengan von der Leyen, Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng mempertegas kembali pesan Presiden Xi Jinping bahwa sejarah peradaban manusia membuktikan kerja sama luas adalah pendorong utama kemajuan, bukan konfrontasi atau kompetisi. Karena itu, multilateralisme perlu menjadi obor yang memandu dunia ke depan, bukan unilateralisme, tarif, apalagi perang dagang.

"Kami sangat mendorong globalisasi ekonomi inklusif dan perdagangan bebas yang mengejar pendekatan win-win. Dalam zaman yang serba sulit, ini adalah jalan keluar yang benar. Syaratnya, aturan berlaku sama untuk semua, dan tidak ada negara yang diistimewakan, apalagi kembali ke hukum rimba, di mana yang kuat menentukan masa depan," tegas He.

Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng. Foto: Fabrice Coffrini/AFP

Alih-alih mencemaskan terjadinya perlambatan ekonomi dalam beberapa waktu mendatang, He mengajak partisipan forum WEF untuk bergandengan tangan untuk mencapai sejumlah target global, memerangi ketimpangan, dan bersama-sama mempercepat tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pda 2030.

"Tidak boleh ada zero-sum game dalam upaya mencapai target ini. Daripada memperebutkan kue kemakmuran, Tiongkok lebih berkepentingan memperbesar kue tersebut, membaginya secara adil. sehingga masalah selesai tanpa perlu ada perebutan," tegasnya.

Dalam hubungan dengan Amerika Serikat, He menegaskan bahwa terlepas dari hubungan ekonomi dan perdagangan yang naik turun, 5 sesi konsultasi bilateral telah berhasil mengatasi hambatan perdagangan dan mengendurkan tarif. Berkaca dari itu, He mendorong agar konsultasi, dialog, dan komunikasi terus dikedepankan bersamaan dengan upaya menghindari antagonisme antarnegara.

"Kita akan sama-sama menang jika bekerja sama, sama-sama kalah jika berkonfrontasi. Kadang-kadang ada kesalahapahaman, tetapi itu bisa dijembatani. Kami datang sebagai mitra, bukan rival. Kami menawarkan kesempatan, bukan ancaman bagi negara manapun," pungkas He.

Partisipasi Indonesia

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama Danantara Indonesia dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan berpartisipasi dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026. Partisipasi Indonesia di WEF bukanlah langkah yang bersifat ad hoc, melainkan wujud konsistensi diplomasi ekonomi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Kehadiran ini bertujuan memperkuat promosi investasi Indonesia serta menegaskan peran Indonesia sebagai mitra dialog strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam berbagai perhelatan WEF sebelumnya, Indonesia secara aktif memanfaatkan forum global ini untuk menyampaikan agenda reformasi struktural, peluang investasi strategis, serta komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

“WEF ini tentunya menjadi momentum yang sangat baik untuk Indonesia, untuk menyampaikan narasi nasional serta rencana-rencana ke depan Indonesia kepada masyarakat global, termasuk kebijakan dan regulasi baru yang sudah dikeluarkan, sebagai pesan bahwa Indonesia terus bergerak maju,” jelas Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani, beberapa waktu lalu.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Macroeconomics, Energy, Environment, Finance, Labor and International Reporters