Bukan sekadar rencana di atas kertas, komitmen terus ditunjukkan pemerintah lewat langkah nyata untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang beragam dan tersebar di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) menunjukkan performa yang cukup signifikan dalam peta investasi energi nasional. Berdasarkan data realisasi investasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sektor EBTKE berhasil mencatatkan angka sebesar 2,4 miliar dollar AS pada akhir tahun 2025 atau naik 33% dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan positif sejak dua tahun sebelumnya, di mana pada 2023 investasi berada di angka 1,5 miliar dollar AS dan meningkat menjadi 1,8 miliar dollar AS pada 2024. Meskipun sektor minyak dan gas bumi (Migas) masih mendominasi porsi investasi sektor energi secara keseluruhan, kenaikan di sektor EBTKE menunjukkan bahwa minat investor terhadap energi hijau di Indonesia kian menguat.
Keberhasilan dalam menarik minat investor ini berdampak langsung pada penguatan infrastruktur kelistrikan nasional. Hingga Desember 2025, Indonesia mencatatkan total kapasitas terpasang pembangkit EBT mencapai 15.630 MW. Pencapaian ini disebut sebagai tambahan kapasitas terbesar yang berhasil diraih dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Jika menilik rincian kapasitas tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi sebesar 7.587 megawatt (MW). Disusul oleh sektor bioenergi sebesar 3.148 MW dan panas bumi (Geothermal) yang menyumbang 2.744 MW.
Sementara itu, sektor Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) juga menunjukkan taji dengan kapasitas 1.494 MW, yang diprediksi akan terus tumbuh pesat seiring dengan kemudahan regulasi panel surya atap. Keberagaman sumber energi ini, termasuk kontribusi dari tenaga angin, sampah, hingga gasifikasi batubara, menciptakan portofolio energi yang resilien bagi kebutuhan industri masa depan.
Dengan capaian investasi dan kapasitas yang ada saat ini, Indonesia terus mendorong dan berupaya untuk memperkuat kedaulatan energinya. Tantangan besar ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi pertumbuhan ini agar mampu memenuhi lonjakan beban listrik dari industri teknologi tinggi.
Dengan memaksimalkan potensi EBT yang melimpah, Indonesia tidak hanya sekadar menjaga lingkungan dari ancaman perubahan iklim, tetapi juga sedang membangun fondasi ekonomi baru yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.