Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia menunjukkan setelah sempat terkontraksi selama dua triwulan sebelumnya, realisasi penggunaan tenaga kerja pada triwulan-IV 2025 akhirnya berbalik positif dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 0,72%.
Kondisi ini didorong oleh peningkatan aktivitas domestik selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, yang memicu kebutuhan sumber daya manusia tambahan di sektor-sektor strategis, seperti jasa pendidikan, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan.
Di balik tren positif tersebut, beberapa sektor utama masih tertahan dalam zona kontraksi dan menghadapi tantangan besar. Sektor pertanian mencatatkan penurunan penyerapan tenaga kerja yang cukup dalam (SBT -0,66%) akibat faktor musiman masa tanam dan gangguan cuaca ekstrem, termasuk kejadian banjir di wilayah Sumatera.
Kondisi serupa terjadi di sektor konstruksi seiring dengan selesainya berbagai proyek di akhir tahun. Sektor industri pengolahan yang meskipun membaik, masih belum mampu keluar dari area pertumbuhan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan tenaga kerja belum merata di seluruh lini lapangan usaha.
Memasuki tahun 2026, dunia usaha memiliki optimisme yang jauh lebih kuat dengan prediksi terjadi lonjakan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. Prakiraan SBT tenaga kerja untuk triwulan-I 2026 melonjak ke angka 2,47%, sebuah lompatan besar dibandingkan capaian akhir tahun sebelumnya.
Pelaku usaha meyakini bahwa awal tahun akan menjadi titik balik bagi sektor-sektor yang sebelumnya lesu, terutama didorong oleh persiapan operasional dalam menyambut siklus ekonomi tahunan yang lebih masif.
Sektor pertanian diprediksi akan menjadi salah satu andalan dalam menyerap tenaga kerja pada awal 2026 seiring dengan datangnya musim panen raya tanaman pangan. Optimisme juga diperkuat oleh persiapan dunia usaha dalam menghadapi periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Sektor perdagangan besar dan eceran serta sektor transportasi diproyeksikan akan merekrut lebih banyak pekerja untuk mengantisipasi lonjakan permintaan barang dan mobilitas masyarakat yang biasanya mencapai puncaknya pada periode tersebut.
Meskipun masih terdapat hambatan di beberapa sektor akibat faktor cuaca dan siklus operasional proyek, prospek ketenagakerjaan di tahun 2026 diprediksi akan lebih baik dibandingkan tahun 2025. Andil musim panen raya dan momen hari besar keagamaan menjadi katalisator utama yang diharapkan mampu menekan angka pengangguran lebih lanjut.
Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi pertumbuhan ini agar tidak hanya bersifat musiman, tetapi mampu bertransformasi menjadi penyerapan tenaga kerja yang stabil dan berkelanjutan sepanjang tahun.