Penggunaan AI untuk Meningkatkan Pendapatan, Efisiensi, dan Inovasi (2)

Penggunaan kecerdasan buatan atau AI kini sudah semakin umum. Tidak saja di dunia bisnis, sektor pemerintahan atau pelayanan publik pun mulai menerapkannya. Survei global menunjukkan banyak manfaat dari menggunakan AI.

Penggunaan AI untuk Meningkatkan Pendapatan, Efisiensi, dan Inovasi (2)
Photo by Jackson Sophat on Unsplash

Penggunaan kecerdasan buatan atau AI di organisasi atau perusahaan kian masif di berbagai negara. Survei global McKinsey yang dilaporkan pada November 2025 lalu menyebutkan perusahaan yang berkinerja tinggi telah menggunakan AI untuk transformasi bisnis mereka dan sebagian besar sedang mendesain ulang alur kerja.

Sejak AI sebagai tools diperkenalkan dan menandai dimulainya era baru kecerdasan buatan, banyak perusahaan yang mempertimbangkan AI untuk transformasi bisnis. Meski diakui penggunaannya belum merata, AI diyakini dapat meningkatkan kinerja perusahaan melalui efisiensi biaya, tambahan pendapatan, dan inovasi.

Survei global McKinsey (dalam laporan The state of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation) menyebutkan sembilan dari sepuluh responden mengatakan organisasi mereka secara teratur menggunakan AI—tetapi laju kemajuannya masih belum merata. Sebanyak 88% melaporkan penggunaan AI secara teratur dalam setidaknya satu fungsi bisnis. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan survei setahun yang lalu yang di angka 78%.

Survei dilakukan secara daring dari tanggal 25 Juni hingga 29 Juli 2025, dengan jumlah responden sebanyak 1.993 responden yang tersebar di 105 negara yang mewakili berbagai wilayah, industri, ukuran perusahaan, spesialisasi fungsional, dan masa kerja. Responden survei oleh Lembaga McKinsey & Company ini adalah para eksekutif dan manajer untuk menghasilkan wawasan baru dalam proses pengambilan keputusan yang tepat dan efektif.

Dilihat implementasinya di organisasi/perusahaan, sebagian besar masih dalam tahap eksperimen atau uji coba (32%). Sebanyak 30% dalam tahap baru mengawali atau Piloting di mana penggunaan AI masih dalam tahap awal dan terbatas pada satu fungsi bisnis. Fungsi-fungsi atau unit yang bisa menerapkan AI antara lain fungsi manajemen pengetahuan, pemasaran dan penjualan, pengembangan produk, personalia/HR, pengolahan/manufacturing, strategi dan keuangan perusahaan, teknologi informasi, dan lainnya.

Sebanyak 31% perusahaan sudah sampai pada tahap peningkatan skala penggunaan AI (Scaling) secara lebih luas ke beberapa fungsi bisnis. Selebihnya (7%), berada di tahap yang lebih tinggi dengan telah mengintegrasikan AI pada seluruh organisasi (Fully Scaled).

Penggunaan AI lebih banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik besar dari segi pendapatan ataupun dari segi tenaga kerja, dan biasanya sudah berada pada tahap peningkatan skala (Scaling) dalam menggunakan AI. Responden yang bekerja di industri media dan telekomunikasi, asuransi, dan teknologi mengaku merupakan pengguna AI yang terbanyak.

Indikator utama untuk melihat dampak penggunaan AI menurut responden adalah dari manfaat biaya yang dihemat dan pendapatan yang meningkat.  Peningkatan pendapatan yang dihasilkan dari penggunaan AI paling sering dilaporkan dalam kasus penggunaan AI di bidang pemasaran dan penjualan, strategi dan keuangan perusahaan, serta pengembangan produk dan layanan. Hasil ini konsisten terlihat dari hasil survei McKinsey selama bertahun-tahun.

Sebanyak 80% responden mengatakan perusahaan mereka menetapkan efisiensi sebagai tujuan dari inisiatif AI. Namun, hanya 39% yang melaporkan adanya dampak terhadap laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) bagi perusahaan. Selain itu, mayoritas responden (64%) juga mengatakan bahwa penggunaan AI di organisasi mereka telah meningkatkan inovasi.

Terlepas dari apakah responden berasal dari perusahaan berkinerja tinggi atau tidak, mereka yang mengatakan organisasi mereka menggunakan AI untuk mendorong pertumbuhan dan/atau inovasi juga merasakan manfaat lainnya, seperti peningkatan kepuasan pelanggan, diferensiasi kompetitif, profitabilitas, pertumbuhan pendapatan, dan perubahan pangsa pasar.

Lalu bagaimana dampak penggunaan AI terhadap tenaga kerja? Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan AI oleh organisasi, responden memiliki perspektif yang berbeda mengenai bagaimana AI dapat memengaruhi jumlah tenaga kerja di organisasi mereka di kemudian hari. Berdasarkan kebutuhan tenaga kerja pada fungsi-fungsi di mana organisasi menggunakan AI, sebagian besar responden mengamati hanya sedikit atau bahkan tidak ada perubahan dalam jumlah karyawan akibat penggunaan AI oleh organisasi mereka dalam setahun terakhir.

Namun, di beberapa fungsi bisnis, kurang dari 20% responden menyatakan terjadi penurunan sebesar 3% atau lebih tenaga kerja. Akan tetapi, sebagian kecil responden juga ada yang mengatakan bahwa penggunaan AI oleh organisasi mereka justru menyebabkan penambahan jumlah karyawan dalam fungsi tertentu.

Survei McKinsey menunjukkan bahwa potensi optimal AI masih belum terwujud sepenuhnya.

Meskipun penggunaan AI kini sudah semakin umum, survei McKinsey ini menunjukkan bahwa potensi optimal AI masih belum terwujud sepenuhnya. Sebagian besar organisasi masih menavigasi transisi dari eksperimen ke penerapan skala AI yang lebih besar, sehingga dampak finansialnya belum begitu terasa. Pengalaman perusahaan-perusahaan berkinerja terbaik bisa menjadi acuan. Mereka memposisikan AI sebagai katalis untuk mentransformasi organisasi, mendesain ulang alur kerja, dan mempercepat inovasi.

Seiring dengan peningkatan alat AI dan kemampuan perusahaan, peluang untuk menerapkan AI secara lebih menyeluruh ke dalam perusahaan akan menawarkan organisasi cara-cara baru untuk memperoleh nilai dan menciptakan keunggulan kompetitif.

Author

Read more