Pemerintah Jamin Stok dan Harga Pangan Jelang Imlek hingga Ramadan

Kementerian Perdagangan memastikan ketersediaan dan harga bahan kebutuhan pokok menjelang perayaan Imlek dan Ramadhan 2026 dalam kondisi aman.

Pemerintah Jamin Stok dan Harga Pangan Jelang Imlek hingga Ramadan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) membeli sayuran saat meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026) ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Table of Contents

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan memastikan ketahanan pangan jelang perayaan Imlek dan bulan Ramadan tahun ini dalam kondisi yang aman. Hal ini ia sampaikan usai Rapat Koordinasi Kesiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri 2026, di Kementerian Perdagangan, Kamis, 29 Januari 2026.

Menurut Iqbal, harga barang kebutuhan pokok jelang permintaan yang dipastikan akan mengalami itu dipastikan tidak ada masalah. “Terkait dengan ketersediaan semua barang kebutuhan pokok itu tidak ada masalah, semuanya terkendali,” ujar Iqbal.

Stok beberapa komoditas, seperti telur ayam, menurut Iqbal saat ini malah alami surplus. Bahkan harga minyak goreng rakyat (Minyakita) mulai menunjukkan tren penurunan dan diharapkan dapat kembali sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) pada Februari 2026, seiring optimalisasi distribusi ke pasar.

Penurunan harga ini terjadi setelah pemerintah memperkuat kewajiban distribusi produsen kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2026.

Berdasarkan pantauan Kemendag, melalui Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP), rata-rata nasional harga Minyakita pada pekan lalu masih berada di kisaran Rp16.800 per liter. Namun, harga tersebut kini telah turun menjadi Rp16.500 per liter.

Iqbal menyampaikan, harga tersebut memang belum sesuai dengan HET yang ditetapkan Rp15.700 per liter. Namun, ia optimistis harga Minyakita akan terus turun seiring dengan kelancaran distribusi dari BUMN Pangan.

"Kami harapkan kalau misalnya ini sudah optimal, nanti di akhir bulan ini bisa mencapai harga eceran tertinggi yang telah kita sepakati bersama (Rp15.700)," jelas Iqbal.

Bawang putih diprediksi turun harga

Pemerintah, saat ini juga sedang menunggu pasokan bawang putih impor yang akan segera masuk ke pasar domestik. Sehingga diharapkan mampu menekan harga yang terus meningkat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Iqbal mengatakan pemerintah telah menerbitkan seluruh persetujuan impor (PI) bawang putih untuk para pelaku usaha yang tercatat dalam sistem Indonesia National Single Window (INSW).

Pedagang memilah bawang putih yang dijual di Pasar MAJT, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/1/2025). ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Iqbal menyatakan, hasil rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga menunjukkan bahwa bawang putih menjadi komoditas yang perlu mendapat antisipasi khusus. Namun, setelah PI diterbitkan, ia menilai persoalan tersebut telah terselesaikan.

Jaga harga pangan, cegah kerawanan sosial

Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, stabilitas harga pangan sangat penting untuk mencegah lonjakan inflasi apalagi menjelang hari besar seperti Ramadhan.

Stabilitas harga juga bisa melindungi daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, dan menjamin akses terhadap nutrisi dasar. “Harga pangan yang stabil mencegah kerawanan sosial, menjaga stabilitas ekonomi nasional, dan memastikan kesejahteraan produsen (petani) serta konsumen,” katanya kepada SUAR,di Jakarta 29 Januari 2026.

Harga yang terkendali (sesuai HET/HAP) memastikan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka tanpa tekanan ekonomi berlebih.

Ritel modern jadi hub stabilitas harga pangan

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin, saat dihubungi secara terpisah mengatakan, ritel modern akan menjadi hub atau penghubung dan membuka pintu kolaborasi untuk mendukung ketahanan pangan dan ikut serta menjaga stabilitas harga.

Aprindo akan membuka berbagai bentuk kolaborasi dengan asosiasi di bidang pangan, produsen, petani, hingga peternak. 

Kolaborasi ini akan memotong rantai distribusi, yang disinyalir membuat adanya perbedaan harga di berbagai kota dan antar wilayah terutama menjelang hari besar keagamaan.

“Aprindo  akan menginisiasi untuk dapat sumber langsung sehingga rantai distribusi dapat dipotong dan berujung kepada harga yang lebih baik bagi masyarakat,” katanya kepada SUAR.