NPW Property - Xurya Daya Operasikan PLTS Atap di 4 Mal

Infrastruktur ini mampu menghasilkan daya hingga 2.000 kWp, yang diproyeksikan menyuplai listrik tahunan sebesar 3,3 juta kWh.

NPW Property - Xurya Daya Operasikan PLTS Atap di 4 Mal
Photo by Dad hotel / Unsplash

NWP Property menggandeng Xurya Daya Indonesia pada Rabu (14/1) mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di mal, yakni City Mall Garut, City Mall Bondowoso, Park Semarang, dan Park Pejaten, Jakarta. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan Xurya Daya Indonesia sebagai penyedia solusi energi surya.

Hal ini dilakukan sebagai upaya mendukung transisi energi nasional dan meningkatkan efisiensi dalam strategi bisnis ritel di Indonesia. Instalasi panel surya yang tersebar di empat titik lokasi ini mencakup luas area sekitar 11.000 meter persegi dengan total lebih dari 2.800 unit panel.

Infrastruktur ini mampu menghasilkan daya hingga 2.000 kWp, yang diproyeksikan menyuplai listrik tahunan sebesar 3,3 juta kWh. Dari sisi ekologi, inisiatif ini efektif mereduksi emisi karbon hingga 3 juta kilogram setiap tahunnya, sebuah kontribusi yang sebanding dengan dampak positif dari penanaman 39.000 pohon.

Head of Research and ESG NWP Property, Dhawal Doshi, menjelaskan bahwa sebagai operator pusat perbelanjaan, NWP memandang mal tidak hanya sebagai destinasi ritel, tetapi juga ruang publik yang dikunjungi ribuan orang setiap hari. Oleh karena itu, pengelolaan operasional mal perlu memperhatikan aspek efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.

“Kami melihat penggunaan rooftop solar sebagai solusi yang sangat relevan untuk mendukung operasional mal secara efisien, sekaligus memberikan perbaikan lingkungan tanpa mengorbankan kenyamanan pelanggan,” ujar Dhawal, Rabu (14/1/2026).

Meskipun diakui kontribusi panel atap hanya mampu menyuplai 10 persen dari total kebutuhan listrik di mal, Doshi menegaskan bahwa komitmen jangka panjang NWP menjadi faktor penting yang memungkinkan Xurya berinvestasi sekaligus melakukan perawatan sistem secara berkelanjutan.

Foto udara panel surya untuk penerangan jalan di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (13/1/2026). (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/bar)

Dari sisi penyedia teknologi, Managing Director Xurya Daya Indonesia, Eka Himawan, menjelaskan bahwa PLTS atap yang dipasang di empat lokasi NWP Property memiliki total kapasitas terpasang sekitar 2 megawatt (MW) atau setara 2.000 kilowatt, yang berasal dari sekitar 2.800 panel surya.

“Sistem ini mampu menghasilkan lebih dari 3,3 juta kilowatt hour (kWh) listrik per tahun dan setara dengan pengurangan emisi karbon dioksida sekitar 3.000 kilogram per tahun, atau dampak lingkungan setara penanaman sekitar 39.000 pohon,” kata Eka.

Ia menambahkan, seluruh panel surya tersebut dipasang di area atap pusat perbelanjaan dengan total luasan sekitar 1.000 meter persegi atau setara 1,2 hektare.

Kerja sama antara NWP Property dan Xurya menggunakan skema bisnis tanpa biaya investasi awal bagi pemilik aset.“NWP tidak perlu mengeluarkan biaya di depan. Modelnya adalah operational lease, di mana klien hanya membayar listrik yang digunakan. Investasi sepenuhnya dilakukan oleh Xurya, dengan komitmen jangka panjang dari kedua belah pihak,” ujarnya.

Eka menilai adopsi PLTS atap di Indonesia telah memasuki fase akselerasi. Jika pada periode 2018–2020 masih berada pada tahap pengenalan, kini semakin banyak sektor industri dan ritel yang mengadopsi PLTS karena manfaat ekonomis dan lingkungan.

“Selain lebih murah dalam jangka panjang, dampaknya juga nyata, termasuk penciptaan lapangan kerja. Kami telah bekerja sama dengan lebih dari 100 kontraktor lokal dan terus mendorong transfer pengetahuan teknis,” kata Eka.

Namun, ia menyoroti tantangan berupa keterbatasan kuota dan antrean pemasangan PLTS atap yang memperlambat laju implementasi, meskipun proyek tersebut tetap menarik secara finansial.

“Dari segi finansial sih tetap selalu menarik. Cuma sekarang masalahnya jadi dilambatin,” ujarnya.

Menurut Eka, tingginya antrean justru mencerminkan permintaan yang jauh melampaui kuota yang tersedia. Kondisi ini turut memengaruhi tren pertumbuhan PLTS atap yang kini berjalan lebih terukur mengikuti ketersediaan kuota.

Sebagai respons, Xurya mulai memperluas pengembangan ke segmen lain, termasuk PLTS off-grid di kawasan terpencil, sektor pariwisata, pertambangan, dan perkebunan. Selain itu, Xurya juga tengah menjajaki integrasi PLTS dengan kendaraan listrik untuk kebutuhan operasional.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang PLTS atap per Juli 2025 telah mencapai 538 megawatt peak (MWp) yang tersebar di 10.882 pelanggan PLN. Di sisi lain, data PLN mencatat jumlah pelanggan PLTS atap mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas terpasang sekitar 772,9 MW, di mana sekitar 6.500 pelanggan berasal dari sektor rumah tangga.

PLN juga telah menyederhanakan proses pendaftaran dan perizinan PLTS atap melalui layanan end-to-end di aplikasi PLN Mobile, serta menetapkan Service Level Agreement (SLA) selama 30 hari untuk layanan PLTS atap on-grid guna meningkatkan kepastian dan transparansi layanan.

Long-term investment

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Faisal, menilai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia dinilai menghadapi tantangan utama pada besarnya kebutuhan investasi awal, meski secara jangka panjang lebih ekonomis dibandingkan pembangkit berbasis energi fosil.

"Namun, ia menekankan bahwa pada fase operasional, PLTS justru memiliki biaya yang jauh lebih rendah.

“Jadi sebetulnya ini lebih ekonomis, tapi di awal memang membutuhkan investasi yang cukup besar,” ujar Faisal kepada SUAR, Rabu (14/1/2026).

Namun, tantangan investasi tidak berdiri sendiri. Faisal menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor komponen utama PLTS, khususnya panel surya.

“Dan untuk bahan-bahannya atau perangkat yang diperlukan, ini kan juga masih belum bisa, sebagian besar masih belum bisa diproduksi di dalam negeri, hanya sebagian kecil. Jadi masih banyak bergantung, terutama panel suryanya dari impor,” kata Faisal.

Kondisi tersebut, menurutnya, membuat biaya investasi semakin sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan dinamika perdagangan global.

Karena itu, ia menilai pengembangan PLTS perlu dibarengi dengan pembangunan industri manufaktur dalam negeri. Langkah ini tidak hanya bertujuan menekan biaya, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.

“Jadi menurut saya itu perlu dikembangkan, kalau ingin mendorong PLTS di Indonesia perlu industri manufakturnya juga dibangun,” ujarnya. Dengan demikian, manfaat PLTS tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja.

Faisal juga menekankan aspek kelembagaan dalam pengembangan PLTS, khususnya keterkaitan dengan PT PLN (Persero) sebagai pihak yang memonopoli penyediaan listrik nasional. Seluruh pembangkit, termasuk PLTS, harus terintegrasi dengan sistem PLN. Kondisi ini membuat penentuan harga listrik dan skema pembelian menjadi faktor krusial bagi kelayakan proyek.

Ia menambahkan, kepastian harga dan skema pembelian listrik menjadi elemen penting dalam membangun iklim investasi yang kondusif.

Dalam konteks tersebut, Faisal menilai kerja sama yang erat antara pemerintah, investor, dan PLN menjadi prasyarat utama.

Faisal menegaskan bahwa percepatan pengembangan PLTS tidak hanya bergantung pada target kapasitas, tetapi juga pada kesiapan ekosistem investasi, industri pendukung, serta kepastian regulasi dan harga.

"Tanpa perbaikan di sisi-sisi tersebut, potensi ekonomi dan lingkungan dari PLTS dinilai belum akan optimal dimanfaatkan," ujar dia.