Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara penyesuaian indeks saham Indonesia 28 Januari 2026 memberi tekanan berat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Otoritas berwenang harus segera melakukan perbaikan untuk memenuhi standar yang diminta MSCI.
Pembekuan sementara penyesuaian indeks saham Indonesia oleh MSCI telah memicu kekhawatiran investor asing karena tidak adanya transparansi terkait kepemilikan saham dan kualitas data investor yang sesuai standar internasional. Hal ini menyebabkan aliran modal keluar yang signifikan dan membuat IHSG tertekan di awal tahun.
Mengacu pada Fact Sheet MSCI Indonesia Index, saat ini terdapat 18 emiten yang mencakup sekitar 85% dari seluruh ekuitas di Indonesia yang masuk dalam indeks tersebut.
Secara historis, performa kumulatif MSCI Indonesia menunjukkan tren yang jauh tertinggal dibandingkan indeks global lainnya. Dalam grafik rentang Desember 2010 hingga Desember 2025, nilai investasi di MSCI Indonesia hanya tumbuh tipis ke angka 110,03 dolar AS. Sementara indeks MSCI Emerging Markets mencapai 175,40 dolar AS dan MSCI ACWI IMI melonjak drastis hingga 397,57 dolar AS.
Rendahnya pertumbuhan dalam rentang yang cukup panjang ini membuat pasar Indonesia sangat sensitif terhadap berita negatif. Sehingga, ketika isu transparansi free float berujung pada pembekuan indeks, kepercayaan investor goyah karena performa yang sudah lama stagnan semakin terbebani ketidakpastian regulasi.
Melihat data kinerja tahunan, kondisi tahun 2025 menjadi latar belakang yang cukup suram sebelum pembekuan terjadi. Pada tahun 2025, MSCI Indonesia mencatatkan return negatif sebesar -2,75%, sangat kontras dengan MSCI Emerging Markets yang terbang tinggi sebesar 33,57% dan MSCI ACWI IMI yang tumbuh 22,06%.
Jika dilihat dari struktur bobot sektor (Sector Weights) dalam indeks juga menggambarkan mengapa anjloknya IHSG terasa begitu masif. Sektor keuangan (Financials) mendominasi hampir separuh indeks dengan bobot 47,98%. Karena pembekuan ini berdampak langsung pada sentimen investor asing terhadap bank-bank besar yang menjadi pilar utama bursa, penurunan harga pada saham sektor perbankan secara otomatis menyeret jatuh IHSG secara keseluruhan.
Pada sektor lain seperti Materials (14,74%) dan Energy (9,96%) juga tidak mampu menopang indeks karena ketergantungan yang tinggi pada arus modal global yang saat ini sedang tertahan akibat status pembekuan tersebut.
Pembekuan oleh MSCI pada Januari 2026 merupakan pukulan keras bagi pasar yang secara fundamental sedang berjuang mengejar ketertinggalan dari pasar berkembang lainnya. Tanpa adanya perbaikan hingga Mei 2026, investor akan cenderung mengambil sikap wait and see atau memindahkan asetnya ke negara dengan pertumbuhan yang lebih transparan dan atraktif.