Lima investor global berbagi pandangan tentang prospek cerah penanaman modal di Indonesia. Mereka adalah Rakuten Capital, Collyer Capital, Woori Venture Partners, Strategic Year Holdings Ltd, dan Synexia Ventures.
Tanpa menafikan potensi gejolak dan disrupsi, kelimanya sepakat bahwa memiliki mitra lokal yang membantu menjelaskan lanskap regulasi dan situasi ekonomi-politik serta ekspektasi kejutan yang terukur merupakan kunci untuk menavigasi bisnis tetap moncer di negara dengan pasar terbesar di Asia Tenggara.
Managing Partner Rakuten Capital Saemin Ahn menyatakan, selama 4-5 tahun terakhir, Indonesia benar-benar mengalami transformasi yang mencolok di mata investor global dengan kemajuan dan inovasi yang terlihat dari sisi supply, termasuk foreign direct investment (FDI) USD 16 miliar untuk hilirisasi nikel dan kendaraan listrik.
"Meski demikian, kami juga mencermati Indonesia saat ini berhadapan dengan defisit fiskal, pembekuan indeks oleh Morgan Stanley Capital baru-baru ini yang membuat kejutan pasar, serta aliran keluar modal yang telah coba diatasi," ucap Ahn dalam diskusi panel Indonesia Private Equity-Venture Capital Summit di Jakarta, Kamis (29/01/2026).
Faktor-faktor makroekonomi tersebut, menurut Ahn, cenderung merupakan "kebocoran sekunder", sementara kebocoran lebih besar ada pada mismatch kebutuhan sumber daya manusia yang andal dengan supply angkatan kerja Indonesia yang kurang memenuhi kriteria. Ia menegaskan, demand tenaga kerja terampil dari perusahaan asing yang ingin berinvestasi di Indonesia tidak akan pernah berkurang.
"Namun, untuk setiap 100 lowongan pekerjaan untuk high-skilled, hanya ada 53 orang pendaftar yang memenuhi kriteria, dan jauh lebih sedikit lagi yang mampu bertahan. Ada disparitas dalam job applicant supply yang membuat investor kesulitan menemukan tenaga yang tepat dan dapat diajak tumbuh bersama," cetusnya.

Founder dan Managing Partner Collyer Capital Juan Figar membenarkan pendapat Ahn. Menurutnya, kontribusi hingga 36% PDB kawasan Asia Tenggara membuat posisi Indonesia selalu menempati puncak klasemen dalam target portofolio investor manapun. Namun, meski Collyer Capital telah memutar USD 35 miliar kapital di Indonesia, eksposur terbatas menuntut mereka harus menemukan solusi kreatif.
"Kami tidak bisa mengabaikan posisi Indonesia di Asia Tenggara, tetapi kami juga menghadapi banyak tantangan: menemukan manajer yang tepat, valuasi bisnis yang lebih tinggi, regulasi yang tidak terlalu nyaman, dan juga gambaran yang tepat tentang Indonesia, terutama karena peluang investasi di sini relatif masih sepi di Eropa," ujarnya.
Figar mengungkapkan, salah satu salah kaprah terbesar di kalangan pemodal ventura dari Benua Biru adalah mempersepsikan Asia secara terbatas pada India dan Tiongkok. Ketika mengetahui besarnya pasar Indonesia yang menjanjikan di Asia Tenggara, investor Eropa acapkali kesulitan mengetahui lanskap regulasi dan situasi ekonomi-politik lokal secara komprehensif sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.
"Saya pikir investor Eropa tidak akan berhasil tanpa mitra lokal di Indonesia, karena ketika mereka sampai di sini, mereka segera berhadapan dengan tantangan regulasi, ease to do business, dan lain-lain. Saya katakan kepada mereka, 'Anda sangat butuh mitra lokal, bukan hanya untuk memahami situasi setempat, tetapi juga membaca peluang ke depan,'" jelas Figar.
Direktur Woori Venture Partners Alan Ang mengungkapkan pengalaman serupa. Menemukan fokus portofolio yang tepat di Indonesia akan menentukan segalanya, karena Indonesia bukanlah pasar yang memungkinkan investor dapat berpindah dengan cepat seperti di Amerika Serikat atau Tiongkok.
"Indonesia mulai memperlihatkan lighthouse IPO dan perusahaan kaliber tinggi ikut melantai di bursa. Kehadiran sebuah sovereign wealth fund juga ikut membangun reputasinya. Namun, tepat seperti yang Figar katakan, Anda tetap harus mendapatkan dukungan lokal dan membangun relasi basis yang baik dengan masyarakat setempat," tuturnya.
Siap hadapi kejutan
Berbagi pandangan dengan Alan, Venture Partner Strategic Year Holdings Ltd. Pradita Astarina menegaskan bahwa Indonesia memiliki karakteristik pasar yang cenderung berbeda dari negara lain, sehingga penilaian mengenai peluang besarnya return tidak hanya perlu dipikirkan dari segi tingginya risiko, melainkan juga eksekusi yang matang dan sektor yang benar-benar siap diajak melaju.
"Jika Anda melakukan copy-paste formula bisnis dari Hong Kong atau Singapura, saya dapat memastikan Anda akan terkejut, karena seni berbisnis di Indonesia adalah lokalisasi, menjangkau kebutuhan masyarakat, dan sangat menitikberatkan eksekusi, alih-alih rencana yang detail. Copy paste tanpa adaptasi tidak akan berhasil di sini," tegas Pradita.
Keberhasilan Strategic Year dalam menavigasi lanskap lokal di Indonesia, menurut Pradita, tidak lepas dari analisis mendalam terhadap makroekonomi Indonesia yang stabil dan resilien dari sisi nilai tukar, likuiditas, dan kebijakan fiskal. Selain itu, pendalaman juga dilakukan dalam memahami strategi merger, akuisisi, hingga IPO. Resultan hasil keduanya adalah pemilihan portofolio yang tepat di sektor-sektor strategis yang kokoh terhadap goncangan pasar.
"Kami sangat berhati-hati dan lebih melihat profitabilitas, bukan hanya growth. Entry valuation menjadi sangat penting, sehingga kami mencari perusahaan-perusahaan di bawah radar, tetapi memiliki prospek yang baik dan pasar yang jelas, bukan membesar karena hype, tetapi karena kualitas bisnis. Bagi kami, suntikan modal hanyalah alat untuk memulai rencana tumbuh bersama," jelasnya.
Secara khusus, Pradita mengungkapkan bahwa pembekuan indeks oleh MSCI yang terjadi baru-baru ini adalah suatu rekalibrasi yang dicermati investor global sebagai langkah positif untuk mengetahui fundamental bisnis para emiten di pasar modal Indonesia. Lewat kejutan di lantai bursa, investor global terbantu untuk memilah perusahaan yang benar-benar berakar dan yang hanya berkembang karena sentimen sesaat.
"Kejadian MSCI bagi investor global adalah short-term shocks karena private equity umumnya mengunci modal antara 5-7 tahun untuk periode pendek. Investor akan melihat, tetapi tidak akan bereaksi karena modal sudah dikunci. Mitigasi risiko aktif tetap perlu, antara lain dengan memperluas portofolio sehingga multiple exit tetap terbuka," jelasnya.
Managing Director Synexia Ventures Kuan Hsu sependapat dengan Pradita. Dari pengalaman Synexia membantu perusahaan-perusahaan Jepang berinvestasi di Indonesia, sinergi selalu merupakan faktor kritis, tetapi kesiapan menghadapi kejutan dan langkah-langkah antisipasi jauh lebih menentukan peluang return di masa mendatang.
"Jika berinvestasi di Indonesia, pengusaha Jepang akan mengatur semuanya sangat rapi, sangat cermat, dan.... tetap saja terkaget-kaget ketika melihat situasi lapangan! Saya rasa semua investor asing akan melihat demikian, sehingga keterbukaan dan fleksibilitas pemikiran sangat penting. Milikilah ekspektasi yang terukur, dan jangan mudah terlalu terkejut di Indonesia," tegas Kuan.
Merespons perspektif para investor tersebut, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan bahwa kehadiran Danantara sebagai SWF Indonesia tidak akan sekali-sekali menjadi kompetitor bagi investasi swasta, apalagi dari luar Indonesia.
Sebaliknya, apabila investor luar masih ragu akan kualitas proyek, maka Danantara akan menjadi anchor capital untuk menekan risiko, memberikan struktur yang jelas terhadap sebuah proyek, sekaligus memberikan sinyal jika sebuah proyek telah memiliki rencana yang jelas dan siap menerima suntikan dana dari modal ventura global.
"Tugas kami adalah membawa Indonesia menjadi pilihan klasemen utama, bukan tempat pertaruhan taktis atau cadangan. Kami akan menjadi pendamping para investor untuk memasuki pasar Indonesia, menjadi mitra Anda, bersama-sama membuat pasar Indonesia semakin dalam dan kuat," tukasnya.
Read also:

Berkaca pada pengalaman dua hari terakhir, Pandu menjelaskan bahwa pemerintah dan Danantara sebagai SWF menyikapinya secara arif, bahwa peristiwa pembekuan indeks oleh MSCI adalah alarm yang baik dan berhasil membuka mata banyak orang untuk bekerja keras, keluar dari zona nyaman, dan menyingsingkan lengan untuk membuat pasar melaju lebih baik.
"Kami sudah mengetahui ini sejak beberapa bulan lalu dan sudah mendiskusikannya dengan para regulator. Kami harus bekerja lebih baik, memenuhi tanggung jawab kami kepada para investor, dan memiliki fokus yang lebih baik, terutama pada direct investment yang akan lebih sesuai ke depannya," pungkas Pandu.