FAO: Harga Pangan Dunia Melandai di Akhir 2025

Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya harga produk susu, daging, dan minyak nabati.

FAO: Harga Pangan Dunia Melandai di Akhir 2025
Pekerja menngangkut beras dari serapan gabah petani di Gudang Perum Bulog cabang Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (7/1/2026). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nym.)

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan indeks harga pangan global menunjukkan penurunan pada Desember 2025, mencapai level terendah sejak Agustus 2024.

Dalam rilis terbarunya yang dirilis 9 Januari lalu, FAO mencatat Food Price Index (FFPI) pada Desember 2025 berada di level 124,3 poin, atau turun 0.6 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya harga produk susu, daging, dan minyak nabati. Untuk sepanjang 2025, indeks rata-rata harga pangan global berada di 127,2 poin, naik 4,3 persen dibandingkan dengan rata-rata 2024 yang berada di 122,0 poin.

Untuk sektor komoditas, Indeks Harga Serealia FAO pada Desember 2025 berada di 107,3 poin, atau naik 1,7 persen dibandingkan November.

"Kenaikan ini terutama dipicu oleh kekhawatiran baru terkait kelancaran arus ekspor dari kawasan Laut Hitam yang menopang harga gandum internasional," demikian bunyi laporan itu seperti dikutip SUAR pada Selasa (20/1).

Untuk keseluruhan 2025, rata-rata Indeks Harga Serealia FAO tercatat 107,9 poin, turun 4,9 persen dibandingkan 2024 dan menjadi rata-rata tahunan terendah sejak 2020.

Sementara itu, Indeks Harga Beras FAO sepanjang 2025 rata-rata berada di 103,5 poin, anjlok 35,2 persen secara tahunan.

"Penurunan tajam ini dipicu oleh melimpahnya pasokan ekspor, ketatnya persaingan antarnegara eksportir, serta berkurangnya pembelian oleh sejumlah negara pengimpor di Asia," demikian bunyi laporan tersebut.

Untuk minyak nabati, Indeks Harga Minyak Nabati FAO pada Desember 2025 tercatat 164,6 poin, turun tipis 0,2 persen dibandingkan November, sekaligus menjadi level terendah dalam enam bulan terakhir.

"Pelemahan ini disebabkan turunnya harga minyak kedelai, rapeseed, dan bunga matahari yang menutupi kenaikan tipis harga minyak sawit."

FAO menjelaskan harga minyak sawit internasional justru menguat seiring prospek perlambatan produksi musiman di Asia Tenggara. Namun, penguatan tersebut tertahan oleh produksi dan stok Malaysia yang lebih tinggi dari perkiraan pada akhir 2025.

“Secara tahunan, Indeks Harga Minyak Nabati 2025 rata-rata mencapai 161,6 poin, melonjak 17,1 persen dibandingkan 2024 dan menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, mencerminkan ketatnya pasokan global,” tulis FAO.

Di kelompok protein hewani, Indeks Harga Daging FAO pada Desember 2025 berada di 123,6 poin, turun 1,3 persen dibandingkan November. Penurunan bulanan terjadi di seluruh kategori daging, terutama daging sapi dan unggas. Meski demikian, indeks ini masih 3,4 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, rata-rata Indeks Harga Daging FAO mencapai 123,2 poin, naik 5,1 persen dibandingkan 2024, didukung kuatnya permintaan impor global serta meningkatnya ketidakpastian pasar akibat wabah penyakit hewan dan ketegangan geopolitik.

Sementara itu, Indeks Harga Produk Susu FAO mencatat penurunan paling dalam pada Desember 2025, yakni turun 4,4 persen secara bulanan. Pelemahan ini terutama dipicu anjloknya harga mentega, seiring meningkatnya ketersediaan krim musiman di Eropa dan penumpukan stok setelah produksi yang kuat pada awal tahun.

FAO menilai meskipun harga pangan global mulai melandai di akhir 2025, level indeks yang masih tinggi dibandingkan periode pra-pandemi menunjukkan rezim harga pangan global yang lebih mahal dan volatil.

"Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekanan inflasi pangan, terutama bagi negara-negara pengimpor pangan bersih, sekaligus meningkatkan tantangan ketahanan pangan di negara berkembang."

Pengendalian inflasi

Bank Mandiri menilai menilai moderasi harga pangan global pada akhir 2025 memberikan sentimen positif bagi pengendalian inflasi, termasuk di Indonesia.

“Untuk 2026, harga pangan nasional, khususnya beras, diperkirakan relatif stabil seiring perkiraan panen raya pada Februari hingga April 2026 serta peningkatan target pengadaan beras Perum Bulog menjadi 4 juta ton,” demikian menurut laporan Bank Mandiri:Daily Economic and Market Review Office of Chief Economist Bank Mandiri.

Meski Indeks Harga Pangan Global menurun pada akhir 2025, pakar pangan menyoroti harga beras di Indonesia tetap tinggi. Data Kementerian Perdagangan mencatat harga rata-rata Rp15.850 per kilogram, sementara data PIHPS berada di level Rp15.806 per kilogram.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institute Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menegaskan bahwa disparitas ini terutama disebabkan oleh biaya produksi domestik yang jauh lebih tinggi dibanding negara eksportir beras lain, seperti India, Thailand, Vietnam, Bangladesh, dan Pakistan.

“Biaya produksi beras di Indonesia memang lebih tinggi. Selain itu, harga beras internasional seringkali merupakan harga ‘artificial’ karena adanya subsidi ekspor,” kata Dwi Andreas kepada SUAR, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, harga beras dunia rendah karena pemerintah negara-negara eksportir memberikan subsidi, sehingga harga yang diperdagangkan di pasar global tidak mencerminkan biaya produksi sesungguhnya.

Dwi Andreas menjelaskan, faktor struktural di dalam negeri turut memicu mahalnya harga beras. Lahan pertanian di Indonesia sangat terfragmentasi.

“Rata-rata petani anggota AB2TI (Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia) hanya mengelola lahan 0,2 hektare. Dengan luas lahan sekecil itu, biaya produksi menjadi sangat tinggi,” ujarnya.

Menyoroti harga beras, Dwi Andreas menjelaskan bahwa harga beras dunia saat ini tercatat sekitar 340 dolar AS per ton. Dengan kurs 17 ribu per dolar, harga ini setara Rp5.780 per kilogram untuk beras premium kualitas kurang dari 5%. Sementara harga gabah premium di Indonesia, yang ditetapkan pemerintah, mencapai Rp15.052 per kilogram, hampir tiga kali lipat harga global.

“Dengan biaya produksi di Indonesia sebesar Rp15.052 per kilo, mustahil untuk menurunkan harga gabah hingga setara harga internasional Rp5.780 per kilo,” jelas Dwi Andreas.

Fluktuasi harga beras domestik sebagian besar disebabkan oleh musim tanam dan panen yang tidak selalu sejalan dengan konsumsi.

“Harga beras mengikuti musim panen. Jika produksi kurang dari konsumsi, harga otomatis naik. Stok pemerintah menjadi kunci pengendalian harga,” ujarnya.

Dwi Andreas menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi disparitas harga. Meningkatkan efisiensi lahan, mengurangi fragmentasi kepemilikan, dan menekan biaya tenaga kerja serta sewa lahan menjadi hal krusial.

“Kunci stabilitas harga adalah ketersediaan stok pemerintah yang memadai dan manajemen distribusi yang baik,” katanya.

Petani menunjukkan padi hasil panennya di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (19/1/2026) (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/YU)

Tidak berdampak

Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Projosoesilo menjelaskan bahwa penurunan FAO Food Price Index secara global belum memberikan dampak signifikan terhadap biaya produksi di tingkat produsen minuman dalam negeri. 

Ia menjelaskan penurunan harga pangan dunia tidak serta merta menurunkan harga dalam negeri karena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang cukup signifikan, sehingga menahan potensi penurunan biaya impor bahan baku.

‎“Penurunan indeks harga FAO belum kami lihat dampaknya di level produsen. Perlu diingat bahwa kurs rupiah terhadap dolar AS juga mengalami penurunan yang cukup tajam, sehingga menjadi faktor yang harus diperhitungkan,” ujar Triyono kepada SUAR, Senin (19/1/2026) malam.

‎Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, ASRIM mendorong pelaku industri menerapkan strategi kontrak jangka panjang dengan pemasok bahan baku.

Skema ini dinilai dapat memberikan kepastian ketersediaan sekaligus harga yang lebih terprediksi, sehingga membantu industri dalam menyusun perencanaan biaya.

Menanggapi hal tersebut Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Harmono mengatakan Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap perubahan iklim sehingga berdampak pada rusaknya lahan pertanian. Menurut dia, hal inilah yang kerap kali menyebabkan harga menjadi mahal.

"Contohnya bencana geo-hidrometeorologi di tiga provinsi di Sumatera yang merusak 102 ribu hektare lahan pertanian," kata dia