Dari Ekonomi Digital hingga Kebijakan Fiskal, Beragam Upaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih dari 5%

Transformasi digital menawarkan mesin pertumbuhan yang kuat bagi Indonesia. Ini dipadukan dengan kebijakan fiskal untuk mendorong perekonomian.

Dari Ekonomi Digital hingga Kebijakan Fiskal, Beragam Upaya Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih dari 5%
Suasana menara pemancar sinyal Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Buleleng, Bali, Sabtu (27/12/2025). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/sgd

Beragam upaya perlu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mulai dari mengoptimalkan kegiatan ekonomi digital hingga kebijakan fiskal.

Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste David Knight, mengatakan transformasi digital menawarkan mesin pertumbuhan yang kuat bagi Indonesia. Peningkatan jangkauan dan kualitas infrastruktur digital, didukung dengan iklim regulasi yang baik akan menjadi kunci untuk membuka berbagai manfaat ekonomi digital.

Bank Dunia merekomendasikan sejumlah langkah untuk mewujudkan ambisi digital Indonesia, antara lain mempercepat akses jaringan dan kompetisi dengan cara mengalokasikan spektrum yang lebih banyak untuk broadband seluler dan 5G.

Meningkatkan akses yang adil serta terbuka ke jaringan fiber optik dan infrastruktur pasif, termasuk tiang listrik PLN, untuk memperkuat persaingan dan menekan biaya pembangunan.

Kemudian, mendorong investasi swasta guna memperluas jaringan tetap telekomunikasi (fixed broadband)  di daerah pedesaan dengan menggabungkan langganan internet di sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pemerintah.

“Meninjau tarif Palapa Ring, yang merupakan bagian dari jaringan tulang punggung broadband nasional Indonesia, secara grosir untuk memastikan akses dengan harga yang terjangkau di daerah-daerah terpencil juga bisa dilakukan,” ujar dia dalam acara diskusi American Chamber of Commerce in Indonesia di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Ia mengatakan penguatan infrastruktur digital, khususnya melalui investasi swasta bersama dengan pengembangan keterampilan digital dan upaya menjaga kepercayaan terkait sektor digital, dinilai penting untuk memperluas akses terhadap berbagai kesempatan, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan mendorong pertumbuhan inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Potensi ekonomi digital di Indonesia memang tidak main-main. Laporan e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan hampir mencapai Gross Merchandise Value (GMV) senilai USD100 miliar pada 2025. Tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya, Indonesia memperkokoh posisinya sebagai ekonomi digital terbesar dan paling cepat berkembang di Asia Tenggara, dengan sektor e-commerce sebagai pendorong utama. 

Kebijakan fiskal

Tak hanya mengoptimalkan kekuatan ekonomi digital, salah satu upaya lain mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dengan memaksimalkan kebijakan fiskal dan belanja negara.  Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengatakan dorongan fiskal sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Dorongan fiskal (kebijakan fiskal ekspansif) melalui peningkatan belanja pemerintah, insentif pajak, dan subsidi berperan krusial dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi, terutama saat resesi. 

Manfaat utamanya meliputi peningkatan daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, mendorong investasi, serta menjaga stabilitas ekonomi.  Peningkatan belanja pemerintah contohnya proyek infrastruktur bisa meningkatkan permintaan agregat dan mendorong Produk Domestik Bruto (PDB).

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), aspek belanja pemerintah berkontribusi terhadap 7,17% untuk Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan ketiga 2025. Ini yang terkait belanja langsung dari pemerintah. Adapun efek domino yang bergulir bisa lebih besar dari ini.

Kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tak hanya seputar belanja, tapi juga dari pendapatan negara. Mari menjelaskan, pengurangan pajak atau pemberian subsidi/bantuan sosial meningkatkan pendapatan siap pakai rumah tangga, yang memicu konsumsi barang dan jasa.

“Insentif fiskal seperti tax holiday atau pembebasan bea masuk mempermudah pelaku usaha, menarik modal, dan meningkatkan efisiensi industri,” ujar dia.

Dampaknya, lanjut Mari, tercipta investasi, penyerapan tenaga kerja, alih teknologi, hingga ujungnya mendorong pertumbuhan ekonomi makro.

Saat terjadi perlambatan, pemerintah dapat mengintervensi pasar untuk menstabilkan harga, mencegah pengangguran masif, dan menggerakkan ekonomi sehingga dorongan fiskal sangat berarti bagi laju pertumbuhan ekonomi.

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, seluruh pemangku kepentingan ekonomi bisa terus melakukan perbaikan untuk mendorong perekonomianya.

Pertama, perbaikan menyeluruh misalokasi anggaran dan penempatan anggaran secara proporsional pada kebijakan dan program prioritas.

Kedua, pengembalian independensi dan transparansi lembaga negara, serta memastikan tidak adanya intervensi kepentingan pihak tertentu terhadap institusi negara.

Ketiga, penghentian dominasi negara yang berisiko melemahkan perekonomian lokal.

Keempat, melakukan deregulasi kebijakan, perizinan, dan lisensi, serta penyederhanaan birokrasi yang menghambat iklim usaha dan investasi.Kelima, prioritas kebijakan untuk mengatasi ketimpangan dalam berbagai dimensi.

Menurutnya, ini merupakan langkah yang perlu dilakukan mengingat kondisi saat ini menuju darurat ekonomi karena beragam kesalahan kebijakan.

“Langkah antisipasi perlu disiapkan untuk menjaga pertumbuhan apabila dalam kondisi darurat,” ujar dia.

Elektrifikasi

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie, menegaskan bahwa elektrifikasi merupakan kunci bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesial. Hal tersebut disampaikan Anin sapaan akrabnya dalam diskusi panel bertajuk “Rise of Electro States” di salah satu diskusi panel World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swis, Kamis (22/01/2026) siang waktu setempat.

“Bagi Indonesia, elektrifikasi benar-benar menjadi kunci bagi pertumbuhan, inovasi industri, dan juga kesejahteraan masyarakat,” ujar Anin.

Anin menjelaskan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa yang mayoritas berusia muda dan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5 persen selama tiga dekade terakhir, elektrifikasi menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional. "aat ini, kapasitas listrik terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 100 gigawatt, dengan tingkat konektivitas jaringan listrik mencapai 99 persen di 17.000 pulau.

Namun, lanjut Anin, tantangan masih tersisa. Anin mengungkapkan bahwa sekitar 1 persen wilayah, yang mencakup kurang lebih 10.000 desa dan satu juta rumah tangga, belum sepenuhnya menikmati akses listrik yang andal.

Read also:

Macroeconomic Outlook for 2026: Ensuring High Growth is Not Just a Dream
With an expansive state budget and improvements in the business climate, high growth is no longer just a dream if every machine works in sync with the same goal, which is to boost economic capacity, not just increase spending power.

Di sisi lain, tantangan tersebut juga menghadirkan peluang besar. Anin menilai bahwa Indonesia memiliki keunggulan strategis, baik dari sisi demografi maupun sumber daya alam. Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, serta memiliki cadangan tembaga dan silika yang signifikan.

"Hal ini mendukung agenda hilirisasi industri dan upaya menjaga keterjangkauan energi, mengingat meski menjadi (negara) ekonomi ke-16 terbesar dunia, pendapatan per kapita Indonesia masih berada di kisaran USD5.000," jelas Anin.

Anin menekankan bahwa Indonesia tidak dapat berjalan sendiri, terutama dalam hal teknologi dan pengembangan talenta. “Indonesia adalah negara non-blok dan non-aligned (tidak berpihak), sehingga kami dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun kolaborasi tersebut harus saling menguntungkan dan tidak menimbulkan ketergantungan,” ujar Anin.