Bersama Mengeksekusi Gagasan

Sebuah ide tanpa diwujudkan, hanya akan terlupakan, perlu eksekutor yang dilakukan bersama. 

Ide itu mahal, begitu sebagian orang menilai. Sebuah pemikiran itu kadang perlu dihargai sebagai karya yang langka, tidak murah. Namun, pemikiran mentah, atau gagasan brilian yang kadang terselip di kepala, akan terlupakan bila itu hanya jadi angan-angan tanpa jadi kenyataan. 

Seorang bisa punya ide, namun belum tentu bisa membuatnya jadi nyata. Kadang, ide itu harus dikomunikasikan dengan orang lain, dan diwujudkan bersama-sama. Maka, ide sehebat apa pun, tidak akan pernah menjamin kesuksesan. 

Ide hebat tanpa eksekusi, hanyalah angan kosong yang tidak memiliki nilai apa pun. Bisa dikatakan, eksekusi lebih berharga daripada fantasi yang terlalu lama berada di awang-awang. 

Begitu juga dalam sebuah organisasi, yang sedang menghadapi masalah dan perlu jalan keluar, semua anggota tim perlu mencari solusi, menggali ide-ide untuk bisa maju kembali. Banyak yang akan menyumbangkan idenya. Lalu, ketika dari semua ide yang keluar, kemudian salah satu dipilih dan perlu eksekutor, maka di situlah persoalan datang. 

Tak jarang, biar mudah dan cepat disepakati, ide itu kemudian diserahkan kepada pembuat ide. Di sinilah hambatan mulai timbul ke permukaan. Karena tidak semua pemberi ide itu mampu melaksanakan idenya. 

Apalagi dalam sebuah rapat, semua orang bebas mengutarakan konsep yang terbersit dalam pikirannya. Tapi bukan berarti yang punya ide, yang kemudian didorong untuk melakukannya. Karena, yang perlu dieksekusi itu adalah idenya, bukan pemberi ide yang dihakimi dengan menambah tugasnya.

Bagaimana pun, eksekusi bukanlah aksi yang mudah. Eksekusi membutuhkan konsistensi, membutuhkan kontrol, dan tentunya membutuhkan ilmu. Eksekusi bukan asal mulai saja. Banyak yang asal jalan, tapi tidak punya sistem kontrol yang baik. Karena tidak memiliki sistem kontrol yang baik, lalu bagaimana bisa dievaluasi?

Eksekusi membutuhkan konsistensi, membutuhkan kontrol, dan tentunya membutuhkan ilmu.

Di sisi lain, dengan menyerahkan eksekusi kepada pemberi ide, kelompok akan merasa terbebas dari risiko kegagalan. Pengusul dianggap otomatis sebagai pemimpin, karena ia membuka jalan baru.

photo of bulb artwork
Photo by AbsolutVision / Unsplash

Sejarawan dan filsuf Hannah Arendt mengingatkan, tindakan politik adalah ruang bersama. Ide seharusnya memicu partisipasi, bukan membebani satu individu. Di sinilah paradoks muncul, ketika masyarakat atau anggota organisasi ingin perubahan, tetapi enggan menanggung risiko, sehingga beban jatuh pada sang penggagas.

Selain itu, jika dalam setiap rapat selalu ada budaya mengeksekusi pemberi ide, maka jangan pernah berharap, pada rapat-rapat selanjutnya akan lahir ide-ide yang baru dan cemerlang. 

Di sinilah perlunya kepemimpinan yang tajam untuk bisa memutuskan, bagaimana sebuah ide itu harus dieksekusi, siapa yang bertanggungjawab diserahi tugas, yang membantunya, dan siapa yang akan mengevaluasi.  

Maka dalam sebuah organisasi, perlu budaya organisasi yang namanya kolaborasi. Karena tidak semua orang adalah pemikir yang hebat, dan tidak semua orang adalah eksekutor yang handal. Dengan berkolaborasi, keduanya dapat mewujudkan apa yang tidak dapat dicapai seorang diri.

Lalu apakah beride itu mudah? Mudah kalau idenya baru di tahap angan-angan. Ide-ide hebat, harus datang dari pengalaman, juga proses riset yang tidak mudah. Perlu adanya analisa data, analisa trend, analisa tingkah laku, dan sebagainya, hingga bisa benar-benar melahirkan ide yang berkualitas. 

Jadi, di zaman ini yang diperlukan, bukan kompetisi siapa yang paling cerdas, tetapi siapa yang paling lekas mengambil langkah pertama. Bukan soal siapa ide yang paling hebat, tapi siapa yang sudah eksekusi? Bukan tentang yang mendapat kredit atas kontribusinya, tapi konsistensi dalam mengerjakannya.

Maka dalam kondisi apa pun, eksekusi akan selalu mengalahkan ide hebat dan imajinasi. Kita hanya perlu bergerak cepat dan konsisten di jalan nyata, bukan bertahun-tahun membahas ide-ide yang sama. Di situlah pentingnya, aksi nyata daripada hanya sekadar niat baik. 

Dalam kondisi apa pun, eksekusi akan selalu mengalahkan ide hebat dan imajinasi.

Dari langkah mengeksekusi ide dalam memecahkan masalah organisasi, mengajarkan kita, bahwa ide bukan sekadar produk intelektual, melainkan ujian etis, apakah kita berani berbagi tanggung jawab, atau justru mengeksekusi pemberi ide sebagai kambing hitam? Dalam kacamata filosofis, keberanian sejati bukan hanya melahirkan ide, tetapi juga menghidupkan semangat kolektif untuk menanggung konsekuensi bersama.

Read more