" } }

Belajar Kisah Sukses Tarik Investasi ke Dalam Negeri dari Khazanah dan Firma Investasi Global

Para pemangku kepentingan dalam negeri bisa belajar dari kisah jatuh bangun sovereign wealth fund (SWF) Malaysia Khazanah dan beragam firma investasi dunia lainnya yang berhasil tarik investasi ke negerinya untuk pembangunan nasional.

Belajar Kisah Sukses Tarik Investasi ke Dalam Negeri dari Khazanah dan Firma Investasi Global
Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menyampaikan sambutan pada Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Foto: ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar
Table of Contents

Potensi besar sebagai jangkar investasi dunia di kawasan Asia Tenggara menjadikan Indonesia menduduki posisi teratas dalam peta penanaman modal. Namun, potensi tersebut hanya akan menghadirkan dampak konkret dan maksimal apabila motor investasi memiliki pemahaman menyeluruh tentang ekosistem industri serta memiliki wawasan cukup dalam untuk menggalang kemitraan strategis di tengah disrupsi global.

Para pemangku kepentingan dalam negeri bisa belajar dari kisah jatuh bangun sovereign wealth fund (SWF) Malaysia Khazanah dan beragam firma investasi dunia lainnya yang berhasil tarik investasi ke negerinya untuk pembangunan nasional.

Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council dan CEO Sriwijaya Capital Arsjad Rasjid tak jemu-jemu menekankan terbukanya kesempatan bagi Indonesia untuk menarik investasi global, mulai dari lokasi strategis, 280 juta penduduk dengan demografi usia muda tinggi, serta kapasitas Indonesia untuk menjadi bagian integral rantai pasok regional di kawasan Asia Tenggara.

"Tetapi pertanyaan yang paling sering saya dengar dari investor selalu berkisar pada tiga aspek: ketidakpastian regulasi, siapa yang harus mereka ajak bermitra di Indonesia, dan bagaimana kapabilitas sumber daya manusia Indonesia," ucap Arsjad saat membuka forum Making Indonesia an Anchor for Global Investment di Jakarta, Rabu (04/02/2026).

Menyitir pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum 2026, Arsjad bersyukur karena Indonesia menemukan koridor yang tepat untuk menarik investasi global, yaitu dengan memprioritaskan kepastian hukum, mengarusutamakan pengembangan sumber daya manusia yang mumpuni beserta inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas, serta Danantara sebagai mesin pengelola investasi publik.

"Saat ini, Danantara telah memiliki komitmen melakukan co-investment dengan investor swasta domestik maupun mancanegara. Ketika pemerintah siap melakukan co-investment, ini adalah sinyal kuat tentang risiko yang siap dipikul bersama dan kualitas proyek yang terjamin untuk membangun kepercayaan jangka panjang," jelasnya.

Arsjad menegaskan daya tarik investasi Indonesia secara fundamental memiliki sifat strategis dan memiliki relevansi regional. Namun, kepastian regulasi, kapasitas institusional, dan eksekusi yang kredibel adalah faktor yang menentukan potensi tersebut terwujud nyata lewat investasi publik dan swasta yang saling percaya dan bahu-membahu.

"Saya mohon jangan lihat Indonesia atau Asia Tenggara sebagai another investment destination. Kami adalah mitra Anda dalam jangka panjang, dan kami bekerja keras menegakkan kepastian, mengembangkan kapasitas, dan menyambut aliran masuk modal dari setiap investor yang siap bergabung dalam petualangan untuk tumbuh bersama ke depan," pungkasnya.

Ilmu negeri jiran

Sebagai sovereign wealth fund (SWF) anyar, Danantara perlu belajar dari pengalaman investasi publik dari negara lain yang telah mapan, termasuk dari negeri jiran Malaysia. Direktur Pelaksana Khazanah Nasional Berhad Dato' Feisal Zahir mengungkapkan, berkaca dari pengalaman Malaysia, keselarasan prospek investasi SWF dan arah kebijakan industrial bersifat mutlak untuk keberhasilan investasi.

"Hanya jika kebijakan industrial clear, SWF dapat menjadi katalis industri, karena pada dasarnya SWF tidak dapat bergerak sendiri. Contohnya, dalam industri semikonduktor, Malaysia sudah punya bertahun-tahun, tetapi dia membutuhkan lompatan jauh ke depan untuk bisa bersaing, maka kami membentuk sebuah base camp," cetusnya.

Base camp yang Zahir maksud adalah sebuah platform yang mempertemukan kementerian, pelaku industri, dan akademisi yang memungkinkan SWF memiliki gambaran komprehensif dan menyeluruh tentang ekosistem sebuah industri. Zahir menegaskan, prinsip utama Khazanah untuk terjun berinvestasi adalah memahami bidang industri yang hendak dimasuki luar-dalam.

"Alignment SWF dan kebijakan industrial akan memosisikan tempatnya di antara pemerintah dan dunia usaha. Untuk bisa memahami ekosistem dan memainkan peran sebagai katalis pertumbuhan, kami memutuskan berinvestasi dalam penelitian di universitas untuk membangun talent pool yang menggerakkan pertumbuhan itu," kisah mantan Group Chief Financial Officer Maybank itu.

Setelah mendapatkan pemahaman menyeluruh dan memetakan ekosistem sebuah industri, Khazanah akan melihat key enablers yang paling memungkinkan industri tersebut berkembang. Berdasarkan observasi beberapa tahun terakhir, Khazanah menyimpulkan bahwa transisi energi dan infrastruktur digital merupakan kebutuhan mutlak industri untuk bertahan ke depan.

"Pemerintah memang sanggup menjalankan ini, tetapi saya ingin menegaskan satu hal: SWF perlu memberikan kesempatan sektor swasta berkembang dan memajukan bisnis mereka di lingkungan ASEAN, untuk berbisnis secara seamless antarnegara di kawasan. Dari sanalah investasi akan berkembang, karena investasi selalu mengikuti jejak keberhasilan perdagangan," pungkas Zahir.

Perjelas arah

Apabila kiat memetakan ekosistem tersebut ditarik dalam konteks Indonesia, CEO BlueFive Capitasl Hazem Ben-Gacem menilai Indonesia dapat memaksimalkan potensinya pada tiga proyek investasi utama. Pertama, infrastruktur konektivitas rantai pasok, terutama karena posisi geopolitik yang membuat Indonesia menjadi pilihan segera saat trade rerouting terjadi dari Tiongkok ke Asia Tenggara.

Kedua, industri ekonomi keuangan syariah yang akan berkembang pesat sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di Asia Tenggara. Sementara berbagai negara mayoritas Muslim harus bekerja keras memasarkan produk keuangan syariah, pertumbuhan pangsa di Indonesia terjadi secara organik.

Ketiga, investasi dalam industri pariwisata dengan menjadikan Bali sebagai jangkar. Kedudukan Bali yang solid dalam Top 10 Hospitality tingkat dunia dapat menjadi titik tolak untuk mengembangkan pariwisata dengan menggali kekhasan lokalitas setiap daerah, bahkan mencetak preseden sebagai next generation of hospitality.

"Prioritas rantai pasok di tengah disrupsi geoekonomi, ditambah komposisi penduduk usia muda, populasi Muslim terbesar di Asia Tenggara, dan ceruk pariwisata yang sangat besar menjadikan ekosistem investasi di ketiga industri tersebut akan sangat menjanjikan," tukas Ben-Gacem.

Read also:

Resep Menggapai Pertumbuhan di Tengah Disrupsi dalam 7 Perspektif
Demi mencapai pertumbuhan inklusif dan tangguh, strategi reformasi tidak hanya perlu mengatasi hambatan regulasi, tetapi juga memberdayakan semua sektor usaha, mengangkat mutu pekerjaan, serta melipatgandakan produktivitas secara konkret.

Meski prospek sektor-sektor investasi itu menjanjikan, Chairman of the Board Japan Bank for International Cooperation (JBIC) Tadashi Maeda menganjurkan Danantara untuk memperjelas terlebih dulu kedudukannya di mata investor: kapan mereka bertindak sebagai SWF dan kapan bertindak sebagai private equity yang berinvestasi di pasar modal.

"JBIC bukan SWF, tetapi kami sebagai pembangunan dapat menggunakan dana dari pasar modal secara legal untuk pembangunan. dan investasi. Saya tidak tahu apakah Danantara memiliki akses seperti itu, tetapi saya melihat mereka telah berusaha untuk memahami skema co-investment dari segi peluang maupun tantangannya," jelasnya.

Apabila kedudukan tersebut benar-benar jelas, Danantara dapat mulai menjalankan peran sebagai motor kemitraan strategis, terutama di tengah tensi geopolitik yang meningkat. Kapasitas Indonesia yang memiliki angkatan kerja besar dan pekerja terampil perlu dipertemukan dengan teknologi untuk dapat maju berkembang. Dalam aspek ini, Jepang sangat bersedia untuk menjembatani kebutuhan tersebut.

"Strategic engagement perlu dilakukan agar jangan sampai kita kalah dengan Tiongkok. Dengan posisi yang jelas, Danantara dapat memainkan peran ini dan mempercepat target investasi tercapai dalam waktu singkat," pungkas Maeda.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Read more