BPS mencatat total kunjungan dari mancanegara meningkat dari 13,89 juta kunjungan pada tahun 2024 menjadi 15,39 juta kunjungan di 2025. Secara total, kunjungan turis mancanegara di 2025 melonjak 10,80% dibandingkan 2024.
Pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 10,80% ini mencerminkan daya tarik Indonesia yang semakin kuat di mata dunia, didorong oleh stabilitas ekonomi global yang membaik dan peningkatan konektivitas moda transportasi internasional.
Kedatangan lewat jalur udara tetap menjadi tulang punggung utama pariwisata Indonesia dengan porsi terbesar mencapai 10,81 juta kunjungan selama tahun 2025. Bandara Ngurah Rai di Bali masih menjadi primadona yang tak tergoyahkan, menyumbang lebih dari 6,9 juta kunjungan atau sekitar 51% dari total kunjungan pintu utama.
Sementara itu, Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta mengikuti di posisi kedua dengan total 2,76 juta kunjungan. Keduanya menjadi gerbang utama yang sangat krusial, di mana pertumbuhan di Jakarta tercatat stabil di angka 9,37%, membuktikan perannya sebagai hub bisnis dan transit internasional.
Menariknya, pertumbuhan paling progresif justru terlihat pada moda transportasi laut dan darat. Angkutan laut mencatat kenaikan sebesar 21,66% sepanjang tahun 2025, dengan Batam sebagai kontributor utama berkat kedekatan dengan Singapura. Sektor angkutan darat pun tidak kalah menarik dengan pertumbuhan 35,12%.
Pintu perbatasan Atambua mengalami lonjakan drastis hingga 60,23% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa lintas batas negara memberikan dampak signifikan terhadap distribusi wisatawan ke wilayah-wilayah luar Jawa dan Bali.
Namun, di tengah tren pertumbuhan yang masif, terdapat beberapa titik masuk yang justru mengalami penurunan atau stagnasi. Salah satunya adalah Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang mencatatkan penurunan kumulatif sebesar -0,94% (dari 103.797 kunjungan di 2024 menjadi 102.817 di 2025).
Penurunan ini menjadi catatan penting untuk membenahi pariwisata di daerah tersebut, baik dari segi destinasi wisata maupun infrastruktur dan konektivitas. Selain itu, Bandara Kertajati juga mengalami kontraksi tajam sebesar -68,06% secara tahunan, menjadi tantangan besar dalam optimalisasi bandara baru tersebut.
Kunjungan wisman masih terkonsentrasi pada transportasi udara, namun diversifikasi melalui jalur laut dan darat mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan. Peningkatan signifikan pada pintu masuk seperti Benoa yang tumbuh eksponensial secara bulanan di akhir tahun mengindikasikan bahwa segmen wisata pesiar (cruise) memiliki potensi besar di masa depan.