Sebagai pengelola dana yang berperan penting dan strategis, kehadiran Danantara pada pukul 09.00 WIB di pasar modal bukan sekadar aktivitas transaksi biasa. Melainkan juga suntikan likuiditas masif yang diharapkan mampu memperkuat fundamental IHSG.
Keputusan investasi ini diprediksi tidak hanya mengejar profitabilitas jangka pendek, tetapi juga fokus pada keberlanjutan ekonomi nasional melalui pemilihan aset-aset berkualitas tinggi di berbagai sektor utama.
Melihat peta kekuatan pasar, saham-saham sektor finansial tetap menjadi tulang punggung dengan kapitalisasi pasar terbesar mencapai Rp 3.492 triliun pada tahun 2025. Dominasi ini disusul oleh saham sektor infrastruktur (Rp 2.742 triliun) dan energi (Rp 2.595 triliun) yang mengalami pertumbuhan pesat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pergerakan kapitalisasi pasar yang signifikan di sektor energi dan bahan baku mencerminkan optimisme investor terhadap hilirisasi industri dan transisi energi, menjadikannya ladang perburuan yang potensial.
Dilihat melalui rasio PER (Price to Earnings) dan PBV (Price to Book Value), terlihat adanya disparitas valuasi yang menarik antarsektor. Saham sektor industrials menonjol sebagai pilihan yang relatif "murah" dengan PER terendah di angka 12,55x dan PBV hanya 1,41x, memberikan ruang margin aman bagi investor.
Sebaliknya, saham sektor teknologi mencatatkan PER tertinggi sebesar 31,31x, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan tinggi di masa depan meskipun valuasinya jauh lebih premium dibandingkan sektor tradisional seperti perbankan atau konsumsi.
Dalam strategi pemilihan saham, Danantara akan mengarahkan pilihannya pada saham-saham sektor yang memiliki kapitalisasi pasar. Di sektor finansial, ada saham BBCA (Rp 985,49 triliun) dan BBRI (Rp 549,16 triliun) yang menjadi kandidat terkuat karena stabilitas dan perannya sebagai penggerak pasar keuangan.
Sementara itu, di sektor infrastruktur, saham BREN dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1.297,73 triliun juga menawarkan eksposur besar pada energi terbarukan, yang selaras dengan misi jangka panjang pengelolaan dana abadi negara.
Secara keseluruhan, strategi Danantara akan menjadi penentu arah tren pasar modal Indonesia di tahun 2026. Dengan mengombinasikan kekuatan kapital pada saham-saham blue chip di sektor infratruktur seperti saham TLKM atau di sektor industrials seperti saham ASII.
Tidak hanya memburu imbal hasil, tetapi juga berperan sebagai jangkar stabilitas. Interaksi antara valuasi sektor yang menarik dan pemilihan saham-saham pemimpin pasar ini akan menciptakan efek domino positif yang memperkuat kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.